Kamu dulu ada di sana
Melangkah perlahan-lahan
Lalu berhenti dan berbalik.
Aku sekarang di sini
Melangkah lebih pelan
Berharap derap kakimu menyusulku
Tapi di belakang sana
Sunyi .. i .. i ..
Kenapa?
(dan disisipi beribu tanda tanya lainnya.)
Kamis, 23 Januari 2014
i.. i..
Selasa, 07 Januari 2014
barista.
Para pria berjubah hitam lalu lalang sekenanya di pintu masuk. Menunggu klien untuk memutuskan tender, lalu merayakannya sambil tertawa lebar-lebar. Padahal, tujuanku ke sini hanyalah mencari ketenangan, tak disangka malah mendapatkan huru-hara. Aku memilih mengungsikan diri, mencari suasana yang menenangkan. Sudut kafe ini? Jangan kau tanya, tempatnya jauh lebih suram dari rumah hantu yang biasanya mendadak muncul di mall.
Tapi aku memilih mencobanya. Apa yang salah dari mencoba hal baru, selain tidak mencobanya?
Sembari membawa hot coffee latte-ku menjauh, aku mencari bangku yang kosong. Dan tepat seperti dugaanku, semuanya kosong. Suasananya yang sepi nan suram tidak berhasil membuat orang ingin mencoba. Baguslah, pikirku. Dengan begini takkan ada yang menganggu pekerjaanku.
Menulis kisah-kisah yang tak pernah dibaca orang lain selain diri sendiri, itulah aku. Berusaha menekan diri, mencarikan cita-cita yang pas, sayangnya tak pernah ada yang cocok. Sekarang, pelampiasan terbaruku adalah menulis. Merangkai kata demi kata, menjadikannya kisah yang entah dimana menariknya, aku sendiri bahkan tak tahu.
Hari ini, lagu lagu yang melantun sedang berubah haluan. Bukan lagi pop macam Maroon5, Coldplay, bahkan lagu Noah yang sedang nge-hits pun entah kenapa, seperti hilang ditelan bumi. Kini, lagu-lagu romantis memenuhi ruangan ini. Digantikan dengan lagu-lagu Mariah Carey, balada-nya Michael Jackson, Westlife di seantero ruangan. Apa radionya sedang ganti saluran? batinku
Seiring dengan perubahan model lagu yang semakin menjadi jadi, aku pun memilih berpindah bangku menuju depan bar. Free space, lumayan untuk menjernihkan pikiran. Aku pun mengganti minuman pesananku menjadi Iced Moccha Frappucinno.
“Ugh, manis sekali!” pekikku kaget saat lidah ini menyentuh gelas.
“Oh, terimakasih!” jawab barista di balik meja. Aku termangu, kau pikir aku bicara padamu?
“Ah, aku tahu kau merasakan kopinya, bukan aku,” sahut si barista sambil tertawa. Sial, betapa malunya aku. Kenapa ia bisa mengetahui isi pikiranku? Tapi, setelah dipikir-pikir, ternyata ia manis juga, sama seperti menu hari ini.
Perkenalan manis itu kini berujung pada kunjungan rutin ke kedai yang berhias warna langit ini. Hari demi hari berlalu.Tak disangka aku berhasil meng-unlock badge Century Club di jejaring sosial foursquare, atas nama kafe tua dengan barista manis itu.
Bedanya, kini aku sudah tahu bagaimana aku harus memanggilnya. Tidak, tentu bukan dengan “Si Manis” atau “Sweety.” Kau pikir aku sedang bersenda gurau dengan seekor kucing?
Aku bahagia bisa tertawa bersamanya, setiap kali aku datang dan duduk di kursi tinggi merah di pojok, yang selalu kosong setiap jam 4 sore, lalu ia bertanya bagaimana hariku. Kadang, ketika aku sedang sedih dan muak atas segala hal, ia memutarkan lagu-lagu bahagia dan, tentu saja hal itu membuatku merasa lebih baik. Segelas hot mocchacino turut serta meredakan sakit kepala.
“Mungkin, kesempatan kali ini adalah saat yang baik bagi kita untuk saling mengenal satu-sama lain. Bolehkah aku menemani siangmu, bidadari nyasar?” candanya. Aku tertawa malu-malu. Sikap ramah memang membuat orang mudah menyesuaikan diri dengannya. Kami mengambil bangku coklat yang kasa-kasanya mulai termakan usia, mungkin tidak betah dengan pantat-pantat yang menghantamnya.
“Kamu tidak memasukkan apapun ke cangkir ini, kan?” candaku.
“Jangan kebanyakan negative thinking. Ga baik.” Ia menjawab dengan tegas, walaupun di telingaku itu terdengar ketus sekaligus sedikit menyentak.
“Yah, apa salahnya dengan berpikiran hal-hal terburuk yang akan terjadi? Toh dengan begitu aku akan lebih siap menerima kemungkinan yang sedikit lebih baik.”
“Kalau kamu kebanyakan mikir yang jelek, nanti hidup kamu ga bahagia. Jangan mikir yang jelek-jelek, ke orang lain, ke kamu sendiri juga ga boleh,” jawabnya enteng. Aku terhenyak. Barista dengan gigi rapi seputih gigi yang di iklan itu, kini sedang beradu argumen denganku. Aku mengakhiri perdebatan itu dengan hisapan pertama di bibir cangkir. Sengaja kukeraskan volumenya, setidaknya aku ingin membuat dia sadar kalau dia menang.
Kami lalu mulai membicarakan hal-hal aneh di dunia ini. Antara aku dan dia. Dia, barista muda yang baru saja menyandang gelar sarjana sastra, lebih memilih berada di balik bar-bar kedai kopi daripada menyusun frasa-frasa menjadi setumpuk buku pelajaran. Aku, pelajar yang berusaha segera lulus dengan membantai segepok tema skripsi yang tidak jelas kemana arahnya. Dia, yang lebih suka cahaya matahari menembus jendela kamarnya secara menusuk-nusuk, berselisih dengan korden-korden yang masih malu-malu. Aku, yang tergila-gila pada kopi, entah apapun jenisnya. Dia, dan aku, yang kini berdebat, lalu mengakhirinya dengan pemikiran yang amat, sangat dalam.
“Tidak heran. Kamu belajar sastra. Tentu saja, dengan bekali itu kamu bisa berkata-kata seperti itu.”
“Yah, sayangnya aku bukan belajar filsafat aja. Bisa-bisa aku jadi pujangga yang berusaha merebut hatimu, lewat puisi berlapis kopi,” candanya lagi. Otot-otot pipinya tertarik, menyuguhkan seulas senyum yang kini menghiasi hari-hariku. Dan aku yakin, melupakan hari itu bukan opsi yang baik bagi hidupku.
Aku berusaha menampik suara-suara di kepalaku yang mengatakan ada sesuatu pada dirinya, yang membuatku ingin datang, datang dan lagi. Tak hanya untuk menikmati kopi, aku juga ingin berbincang-bincang dengannya lagi.
Tapi aku takut jatuh cinta padanya.
Aku merindukan segelas kopi yang membuat hari-hariku lebih bersemangat. Aku butuh asupan fisik, sekaligus jiwa. Hari-hari ini begitu panasnya, bahkan AC mobil terpaksa aku pasang dengan suhu terendah, walaupun balasannya aku akan memelihara lendir kekuningan di hidung.
Ia berada di balik bar. Aku bisa melihatnya, mengusap-usap meja. Merapikan peralatannya, mencuci beberapa cangkir spesial, karena dia sendiri yang mencucinya. Baru kusadari hanya cangkir cangkir itu saja yang kupakai selama minum di sini. Aku memandanginya dari jauh, tercenung, memikirkan guratan-guratan yang terbentuk karena memperhatikan lekukan whip cream yang kadang keluar jalur. Dan tiba-tiba, ia melihatku.
Ia tersenyum. Dan aku merindukannya.
Kami kembali duduk berhadap-hadapan, di kursi yang dulunya pertama kali kami duduki, menjadikan itu kencan pertamaku yang sangat berkesan. Ia membawakanku segelas iced coffee. Sikapnya tidak berubah. Dingin, sedingin kopi yang baru saja diberikannya padaku. Cuek, menungguku bertanya hal-hal absurd, yang kemudian dijawab secara puitis olehnya.
“Kau punya tanda lahir?” tanyanya tiba-tiba.
“Yah, ada di sekitar leher. Memangnya kenapa?”
“Ada orang yang bilang, kalau tanda lahir adalah lokasi luka kita, yang menyebabkan kita pulang ke atas sana, melayang-layang sebagai jiwa yang bebas, dan kini berada di sini. Jadi, sepertinya di kehidupan yang lalu, kau terbunuh di leher. Seru juga, tuh,” sambungnya. Ia tersenyum, kemudian tertawa-tawa ringan. Baristaku sayang, aku merindukan tawamu.
“Kau punya tanda lahir?” kini giliranku bertanya padanya. Memastikan bahwa bisa jadi ia dulu partner berperangku.
“Yah. Disini.” Ia menunjuk dada. Entah apa yang ia maksud. “Kau tahu, mungkin dulu aku mati karena tertusuk di sini. Dalam, sangat dalam. Karena rasa sakit itu bisa terbawa menembus waktu, dan sampai saat ini, perasaan itu masih bersarang. Jadi, kau tahu kan makna tanda lahir?” Pertanyaan retoris serta senyumnya kini menjadi penutup perjumpaan sore yang mendadak mendung.
Kaulah sang putri di arena perang
yang menusuk dan menorehkan luka
namun lupa untuk kembali lagi
karena hatinya sudah mati
Adakah hari masih tersisa bagiku, untuk menjatuhkan hati pada dirimu?
Tapi dia tidak ada.
Hanya ada aroma tubuhnya yang tersisa, dalam sepucuk surat yang diselipkan di sudut kursi coklat tua itu. Aku tahu, itu untukku.
Kepadamu, aku pulang.
Diiringi rintihan tangis kerinduan
Menanti pelukan di bawah hujan
Sembari menggengam foto kenangan
Aku tahu kau tahu
Namun kau segan berada di sana
Berjejak kaki, melewati hari
Hanya menanti
Aku bergejolak dalam badai
Dan kau diam layaknya awan
Kepadamu, aku kembali
Membawa sejuta harapan yang hancur
Seperti meteor yang kehilangan panasnya
Dan remuk setiap kali dihentikan waktu
Aku ingin merengkuh langit
Agar kau selalu dalam dekapku
Berusaha menjagamu dalam waktu
Karena yang kudapat hanya sakit
Tetesan kristal basah dan mengembun
Menyeruak aroma lama menyentak jiwa
Seakan ingin berkata
“Apa kau sadar akan kasihku?”
Aku merindumu
dalam setiap pergerakan bandul detik
Kamis, 05 Desember 2013
What's Maturity?
Kedewasaan .. Suatu kata yang seringkali kita dengar. Entah dipandang dari sisi sebelah mana, fisik ataukah sikap. Orang-orang memiliki tolak ukur yang berbeda-beda. Entah dari umur, jenjang pendidikan yang menginjak 'sekolah-menengah,' tingkah laku, bahkan sampai sekedar tinggi badan yang mulai bisa menyentuh pencetan lift lantai teratas, walaupun harus jinjit-jinjit ga jelas.
Semua sudut pandang tentang kedewasaan memberikan efek yang berbeda-beda.Bagaimana kita memandang kedewasaan orang lain, juga merupakan suatu bukti mengenai kedewasaan kita. Bagaimana kita menilai orang, memberikan saran-saran, mendengarkan keluh kesah, mengambil makna suatu kejadian. Yup, beberapa hal itu menunjukkan bagaimana sikap kita sebagai orang 'dewasa'.
Sebuah percakapan kecil mengenai kedewasaan sempat beberapa kali mengusik pikiranku. Suatu kali, seseorang mengatakan bahwa aku cukup dewasa, karena seringkali membantunya mendengarkan kisah kemudian memberikan saran-saran, walaupun rok masih warna biru tua. Dan kali lain, seseorang mengatakan aku sudah dewasa untuk melakukan segala sesuatu berdasarkan keputusanku, bukan lagi bergantung pada orang lain, karena warna rok sudah berganti menjadi abuabu.
The point is, dari sisi mana aku harus menilai mana yang baik dan benar?
Hal ini terus mengusikku, sampai suatu saat aku sadar, kedewasaan hanya berdasarkan sudut pandang kita sendiri. Kita menjadi amat-sangat merasa 'dewasa' ketika mampu menyikapi berbagai masalah, meng-handle nya lalu menaklukannya, menjadi seseorang yang mau didengarkan khalayak ramai. Dan kedewasaan itu berubah menjadi tingkah laku kekanak-kanakan ketika apa yang kita lakukan terasa bodoh, tidak berguna, menyebalkan layaknya anak kecil. Tapi sedikit orang yang merasa dirinya kekanak-kanakan pada saat ia melakukan tindakannya. Sampai suatu saat ia menyadari mengapa tingkah lakunya pantas dibilang 'bocah'.
Bagaimana bila membuktikan kedewasaan dengan meninjau kasus milik anggota dewan yang menutupi pelat merah dengan warna hitam? Apakah tindakan tersebut bisa dibilang 'cukup dewasa'? Apakah kita, sebagai rakyat yang memilih mereka menjadi wakil kita ternyata tidak cukup dewasa Bagaimana dengan seseorang yang lebih memilih menangis sendirian daripada mengungkapkannya sendiri? Apakah ia cukup dewasa karena membiarkan masalahnya dipegang sendiri, atau ternyata ia sangat kekanak-kanakan karena ia memilih menangis bombay seperti anak kecil?
Yap, inilah mengapa sudut pandang dan kedewasaan kita juga perlu dipertanyakan.
Hidup masa ini, ternyata menuntut banyak orang untuk menjadi pribadi yang benar-benar matang. Beberapa orang berusaha mendongkrak kedewasaannya habis-habisan. Berusaha tampil layaknya mahluk metropolitan, menjadi pribadi yang tidak peduli akan satu sama lain karena merasa urusannya jauh lebih berat daripada milik orang lain, menjadi orang yang kelihatan tegar dimanamana, dan berusaha membuat orang berkata, 'wah kamu sudah cukup dewasa, ternyata.' Apakah menjadikan diri kita dewasa sebelum waktunya, merupakan pilihan yang tepat?
Kedewasaan .. Sesuatu yang kadang perlu kita pertanyakan, pertama bagi diri sendiri, lalu mulai menimbang-nimbang milik orang lain
What's Maturity?
Kedewasaan .. Suatu kata yang seringkali kita dengar. Entah dipandang dari sisi sebelah mana, fisik ataukah sikap. Orang-orang memiliki tolak ukur yang berbeda-beda. Entah dari umur, jenjang pendidikan yang menginjak 'sekolah-menengah,' tingkah laku, bahkan sampai sekedar tinggi badan yang mulai bisa menyentuh pencetan lift lantai teratas, walaupun harus jinjit-jinjit ga jelas.
Semua sudut pandang tentang kedewasaan memberikan efek yang berbeda-beda.Bagaimana kita memandang kedewasaan orang lain, juga merupakan suatu bukti mengenai kedewasaan kita. Bagaimana kita menilai orang, memberikan saran-saran, mendengarkan keluh kesah, mengambil makna suatu kejadian. Yup, beberapa hal itu menunjukkan bagaimana sikap kita sebagai orang 'dewasa'.
Sebuah percakapan kecil mengenai kedewasaan sempat beberapa kali mengusik pikiranku. Suatu kali, seseorang mengatakan bahwa aku cukup dewasa, karena seringkali membantunya mendengarkan kisah kemudian memberikan saran-saran, walaupun rok masih warna biru tua. Dan kali lain, seseorang mengatakan aku sudah dewasa untuk melakukan segala sesuatu berdasarkan keputusanku, bukan lagi bergantung pada orang lain, karena warna rok sudah berganti menjadi abuabu.
The point is, dari sisi mana aku harus menilai mana yang baik dan benar?
Hal ini terus mengusikku, sampai suatu saat aku sadar, kedewasaan hanya berdasarkan sudut pandang kita sendiri. Kita menjadi amat-sangat merasa 'dewasa' ketika mampu menyikapi berbagai masalah, meng-handle nya lalu menaklukannya, menjadi seseorang yang mau didengarkan khalayak ramai. Dan kedewasaan itu berubah menjadi tingkah laku kekanak-kanakan ketika apa yang kita lakukan terasa bodoh, tidak berguna, menyebalkan layaknya anak kecil. Tapi sedikit orang yang merasa dirinya kekanak-kanakan pada saat ia melakukan tindakannya. Sampai suatu saat ia menyadari mengapa tingkah lakunya pantas dibilang 'bocah'.
Bagaimana bila membuktikan kedewasaan dengan meninjau kasus milik anggota dewan yang menutupi pelat merah dengan warna hitam? Apakah tindakan tersebut bisa dibilang 'cukup dewasa'? Apakah kita, sebagai rakyat yang memilih mereka menjadi wakil kita ternyata tidak cukup dewasa Bagaimana dengan seseorang yang lebih memilih menangis sendirian daripada mengungkapkannya sendiri? Apakah ia cukup dewasa karena membiarkan masalahnya dipegang sendiri, atau ternyata ia sangat kekanak-kanakan karena ia memilih menangis bombay seperti anak kecil?
Yap, inilah mengapa sudut pandang dan kedewasaan kita juga perlu dipertanyakan.
Hidup masa ini, ternyata menuntut banyak orang untuk menjadi pribadi yang benar-benar matang. Beberapa orang berusaha mendongkrak kedewasaannya habis-habisan. Berusaha tampil layaknya mahluk metropolitan, menjadi pribadi yang tidak peduli akan satu sama lain karena merasa urusannya jauh lebih berat daripada milik orang lain, menjadi orang yang kelihatan tegar dimanamana, dan berusaha membuat orang berkata, 'wah kamu sudah cukup dewasa, ternyata.' Apakah menjadikan diri kita dewasa sebelum waktunya, merupakan pilihan yang tepat?
Kedewasaan .. Sesuatu yang kadang perlu kita pertanyakan, pertama bagi diri sendiri, lalu mulai menimbang-nimbang milik orang lain
Selasa, 12 November 2013
Hobby ..
Uhm, seenggaknya pasti ada satu, kan? Your wasting-time activity, your pleasure time.. Entah itu sekedar tidur, ngupil, olahraga, movie marathon, rendeman badan di bathtub, atau apapun deh. Don't say you didn't have any. Bahkan untuk sekedar stalkingin mantan di twitter (dalam jangka waktu yang berturut-turut.. ) yeah that's kind of your hobby.
So, here I am, wanna tell you something bout my hobby, my wasting time activity... my guilty pleasure activity.
Sederet aktivitas nonsense (buat kalian-kalian; buat aku ENGGAK) yang dijadiin jurnal harian. Hey, this is my personal blog, isn't it? Daripada diem-diem mati sendiri mikirin kalimat-kalimat nyelekit, mendingan jadiin aja bahan bacaan di kala nganggur. Yup, kerjaan di kala aku nganggur (salah satunya) adalah bukain blog. I mean, blog ku sendiri, ya ini. Kalo ada yang baca tulisan ini, mungkin cuma aku yang lagi kejepit di sekolahan yang udah mirip kuburan, terbunuh janji-janji yang dipatahin sendiri.
Start from number one ... EAT and EAT.
Hobi memasak jadi pelaku terbesar yang bikin aku ga bisa berhenti makan. Tepat 15 menit sebelum aku nulis ini, aku lagi duduk-duduk bahagia di meja makan, menyantap mie ijo (i'm not a vegan, but surely that taste really good kok), dua piring nasi putih buatan mama yang porridge look alike, ditambah satu risoles spesial sama tiga biji gorengan stik.
Jadi, nggak heran kalo badanku kaya anak babi disogrok air 1 galon, lha wong makan di malem-malem, apalagi makanannya begitu pula. But, why not? They say YOLO, mau aku gendut, aku kurus, what's ur problem? Mau diet, ain't nobody got times. Toh, kurus juga nggak jamin aku bahagia (ALESAN LU!) Ditambah lagi, kalo aku yang masak (jangan ngece dong, aku juga mau jadi mama yang baik buat anak-anakku nanti #tsaah) pasti .. porsinya ajegile. 2 orang bisa mati kekenyangan. Giliran makanannya enak, ada aja yang makan. Tapi kalo ga enak, innalilahi, mati deh.
Number two, mewek-mewek ga jelas habis baca novel picisan.
Ya-ya-ya, emang tipe cewek mellow. Badannya aja gede, giliran dikasih buku model Autumn in Surabaya udah nangis badai halilintar.
But that's my guilty pleasure. Aku ngerasa bersalah dengan me-relate kan semua kisah yang pernah aku baca dengan kenyataan, sambil mikir 'duh kapan ya begini' karena pada ujungnya aku juga bakalan mewek-mewek ala film sinetron. Kalo airnya ditaruh ember, mungkin cukup buat mandi satu keluarga.
But I'm not that type or girl that wasting time by crying. Toh, akhirnya aku diem-diem sendiri, ketawa lihat endingnya yang unexpected (aku ga bisa nebak akhir narasi), dan... Ya sudah. Aku ga bisa nyambungin itu semua sama kenyataan.
And that's my luxury time, menangisi keadaan. Rasanya? Kaya habis ketemu cowok ganteng idaman kamu, dan dia lagi senyum ke arahmu.
Mak-NYES! Bolong sudah kau punya jantung itu.
Number three.... Taking decision?
Aku ga bisa kasi itu judul, but this happen today. Pada akhirnya aku sadar, keluar dari suatu geng (geng apapun itu, sepertinya ..) bakal memberikan efek yang buruk, sekaligus baik. Holy Crap, semoga elo kerasa aja ya, kumpulan manusia yang bikin saya semakin ga bener.
Yah, as usual, freshman pasti masih hobby kumpul sama temen satu almamaternya dulu. Same too, here. Aku gak tau awal mulanya darimana, pada akhirnya aku jadi kumpul bareng mereka. They're so fun, exciting as fireworks, but hurt as hell. Nggak, mereka emang ga nyakitin aku. Tapi, pada akhirnya iya setelah aku keluar.
That decision which answering that who you are few years more, were based by your friends now.
I know who makes this worst, makes some of my friends suffering from this pain. Dan mereka, ga bakal pernah nyadar sakitnya dihina-hina, dijauhin begitu aja TANPA ALASAN. Okay, maybe there's a reason, cuma karena kita saling ga cocok, tapi toh lebih baik dijauhin daripada dihina-hina, kan?
Pilihanku beberapa minggu terakhir; menjauh dari mereka. Being me was the best way to hold on. Kalo sampai sekarang aku masih disana, resiko bakalan semakin banyak. First, aku jadi ikutan benci some of classmates. Second, aku bakalan jadi anak yang (makin) ga bener. Last, I'll hate myself.
Tapi, aku cuma gamau kejadian kelas 9 SMP terulang lagi. They're hating me, (egoism, moody, yes that's me.) and unfortunately, I have no friend. Aku cuma gamau temen-temen yang lain ngalamin hal yang sakitnya luar biasa. Told you, sakit di hati jauh lebih serem daripada sakit di badan. They're already told you, right? Revenge mission-nya emang belum jalan, karmanya udah disiapin sama yang di atas.
The point is, ambil keputusan yang tepat pake hati. Tapi, kalo pake hati resikonya emang duh-duh-duh, but you know what? Seenggaknya sesakit-sakitnya keputusan itu, masih bisa bersyukur karena pilihan sendiri.
Dan buat kalian, emang dasar pecundang yang nggak punya pendirian. Go fuck yourself, shitty little shit.
Last, i'm so sorry. Mungkin nulis gituan di blog termasuk hobby, yah? Toh mereka ga tau aku ada blog. I just can't hold this pain anymore, seriusan, sakit. Keledai sedang persiapan jatuh ke lubang yang sama, untuk ke sekian kalinya.
Eh iya, lagi pengen nulis cerpen. Ngga punya topik.
NB: Kapan jadian?
Sabtu, 26 Oktober 2013
Happy Indonesian Blogger day!
Yap, hari ini adalah hari blogger indonesia, well i'm not describing myself as a blogger, tapi kenyataannya.. sudah 2 tahun saya ngisi post-post ga jelas di blog pribadi, curhat kesana-kemari tanpa alasan yg jelas, but I'm just trying to be me.
Ngga ada yang salah dengan menjadi diri sendiri, kecuali itu bukan konsepsi mengenai siapa anda yg sebenarnya.
Maaf saya sedang absurd, soalnya lagi diburu waktu kena momen yang pas.
Maksudku, dalam hal ini, kalian copy-paste kepribadian orang lain, as long as it's good sih okela, sayangnya kadang-kadang kita trlalu berobsesi meniru kepribadian orang lain, yang belum tentu cocok sama kita. Hal tersebut didasari oleh keinginan kita menjadi pribadi yang lebih baik, tapi SAYANGNYA salah jalan (buatku). Ngga salah sepenuhnya, sih. Tapi resiko yang kita ambil ketika 'menjadi' orang lain lebih nyesek, karena bukan berdasarkan SIAPA SAYA.
Dan didasari oleh teori macam-apa-itu serta pengalaman, keputusan yang diambil orang lain untuk kita itu jaaaaauuuuh lebih menyakitkan kalo sampe kita menyesal.
And, here I am. Inilah aku, ditunjukkan dengan post-post yang ada. Random, ga jelas banget, pengangguran sok sibuk. But I'm so happy with it karena itu semua memang aku, bukan karena disuruh orang nge-blog (tugas sekolah. Haa!). Dan itu ga pernah aku sesali, karena memang keputusan menulis, jatuh cinta dengan dunia ini adalah pilihan aku sendiri :)
Okela daripada aku semakin random, dan karena post ini lagi ga punya tema (ada, tapi belom kepikiran nulis T.T) jadi .. Sekai lagi, HAPPY BLOGGING!
Buat blogger Indonesia, tetap semangat dalam nge post walaupun ga jelas :')
Minggu, 13 Oktober 2013
Perempuan Itu ..
Matahari baru saja bangkit dari peraduannya. Cahayanya masih malu-malu, namun seiring dengan berjalannya waktu, semakin teranglah ia. Embun mulai menghilang, kabut malam juga sudah tak terlihat lagi. Jalanan masih sepi, tak terlihat deru knalpot kendaraan warga kota. Hanya satu-dua orang yang terlihat berkendara. Musim liburan memang amat sangat terlihat jelas di kota ini.
Beberapa orang sudah terlihat memenuhi jalanan. Taman kota mulai dipenuhi roda dua. Dari bapak penyapu jalanan yang amat sangat murah senyum, sampai ibu walikota yang jarang-jarang bisa dilihat disana. Dan yang pasti, perempuan itu. Pengunjung tetap taman kota. Perempuan itu masih saja sering datang berkunjung ke jalan di seberang taman kota. Perempuan yang sembab matanya, yang remuk redam hatinya, yang hancur harapannya.
Tatapan matanya yang sejak dahulu selalu kosong.
Rutinitas yang sudah ia lakukan selama 1 tahun terakhir; Setiap pagi, mengunjungi jalanan di seberang taman, lalu berjongkok selama beberapa saat, entah mengucapkan mantra atau doa, lalu tepat ketika matahari bersinar dengan sempurna, perempuan itu berdiri dan kembali ke kafe di sebelah taman.
Ia selalu duduk di sudut ruangan. Menatap jam kakek, seperti menunggu seseorang. Kemudian perempuan itu membalik-balikkan buku yang ia bawa. Ia kembali menatap jam, menghitung detik demi detik, menggumamkan namanya perlahan-lahan, berharap ia keluar dari balik pintu putih itu.
Tapi, yang ditunggu tak kunjung datang.
Karena toh, pria itu sudah pulang ... sejak dahulu.
Dan tetap saja, perempuan itu duduk diam disana, sampai senja menutup senyumannya, berganti hari, berganti bulan, berganti tahun..
Perempuan itu tetap menggumamkan nama yang sama, memegang buku yang sama, menunggu orang yang sama