Kamis, 17 Juli 2014

Reviews: The Fault In Our Stars.

Hi, there! Sesuai dengan janji kemarin, aku akan nge-post movie/music review. But, kali ini aku akan ngasi triple combos! Yup, I'll reviewing our new tearjerker stories, The Fault In Our Stars aka #tfios. Cerita antara Hazel Grace Lancaster (Hazel) dengan Augustus Waters (Gus) ini menjadi gas air mata buat semua orang, muda-tua, laki-perempuan, galau-happy, single-couple, etc. Yah, yang single nyari cowok kayak gitu, yang couple berharap begitu.

The Fault In Our Stars ini sendiri sudah menjelma menjadi 3 bentuk. Pertama, novel. I do really appreciate the way John Green, the #tfios author tells us the story about love, not love story. This kind of love was hard to find, tapi Green membuat kita terus percaya mengenai eksistensinya. Yah, walau hanya sekedar cerita fiksi, tapi seenggaknya kan menginspirasi.

Cerita ini sendiri bermula dari seorang gadis muda penderita kanker, Hazel Grace, yang mengikuti pertemuan khusus penderita dan survivor kanker di gereja. Hingga suatu saat, ia bertemu dengan Augustus Waters serta temannya, Isaac. Sepulang dari pertemuan tersebut, Gus mengajak Hazel ke rumahnya untuk menonton film. Hazel menceritakan rasa penasarannya terhadap sebuah novel berjudal An Imperrial Affliction; Kemalangan Luar Biasa. Ia pun meminjamkan buku itu kepada Gus, dan Gus berjanji akan meneleponnya seusai membaca buku tersebut. Hazel diam-diam menanti telpon Gus. Hari demi hari, akhirnya Gus selesai membaca buku tersebut dan ikut penasaran dengan ending yang menggantung. Hazel bercerita bahwa ia telah mengirim banyak surat kepada Peter Van Houten, sang pengarang buku tersebut, namun tak ada satu pun yang dibalas.
Hingga suatu hari, ketika Gus menelepon Hazel, ia membacakan balasan email dari Lidewijk, asisten dari Van Houten. Hazel yang terkejut akhirnya ikut mengirim surat kepada Van Houten. Balasan surel tersebut mengajak Hazel menuju Amsterdam. Beruntung, wishes dari Gus belum dipakai, sehingga Gus bisa mengajak Hazel, gadis yang mengenalkannya pada pengarang novel KLB menuju Amsterdam.

Hari pertama di Amsterdam, mereka berkeliling kota sekitar, serta menikmati makan malam di sebuah restoran. Di sana, Gus yang mengenakan 'jas kematian'nya mengatakan perasaannya pada Hazel. Sekembalinya dari restoran, mereka kembali berjalan-jalan, bersama.

Esoknya, baru mereka menuju ke rumah Peter Van Houten. Sebenarnya, Hazel dan Gus berharap akan adanya jawaban dari akhir kisah KLB. Namun, tak disangka, sambutan Van Houten malah kacau balau. Mulai dari tak ingin membalas, menyetel lagu Rusia (adegan paling ga jelas!) sampai akhirnya mereka bertengkar, dan memilih keluar. Namun, Lideuwijk menyusul mereka dan mengajak mereka menuju rumah Anne Frank, survivor dari kekejaman NAZI. Di museum tersebut, tangga -yang merupakan musuh utama Hazel- berhasil ditaklukan. Dan sesampainya di lantai paling atas, Gus mencium Hazel dengan penuh kasih sayang, tak peduli bagaimana keadaan sekitarnya. Orang-orang malah bertepuk tangan, melihat sepasang kekasih yang 'cacat' ini saling melengkapi satu sama lain.

Pada keesokan harinya, Gus pun mengajak Hazel berbicara, berdua saja. Gus mengungkapkan cerita sesungguhnya, bahwa sebenarnya tumornya kembali muncul dan sudah menyebar kemana-mana. Ketika itu, Hazel masih di rumah sakit setelah paru-parunya kembali terisi air, dan Gus menjalani pemeriksaan MRI. Namun, ia tak ingin memberi tahu Hazel. Hazel menangis (ampuni, adegan ini ga nguati, serius.) dan Gus juga.

Sepulang mereka dari Amsterdam, Gus masuk ke rumah sakit dan menjalani Kemo. Gus menjadi orang yang lemah, selalu terbaring di kursi roda. Dan Isaac, sahabat Gus, kini menjadi 'benar-benar buta' serta dicampakkan oleh Monica hanya karena buta. Akhirnya, suatu hari, Gus, Isaac serta Hazel menuju rumah Monica, dan melempari mobilnya dengan telur.

Hari demi hari, Hazel tidur dengan khawatir. Khawatir menerima telepon tengah malam dari Gus, khawatir dengan keadaan Gus, khawatir dengan segalanya. Hingga suatu ketika, nomor telepon Gus memanggilnya. Untung, itu benar-benar Gus yang menelepon. Saat itu, Gus meminta Hazel pergi ke gereja, membacakan pidato kematian (eulogi(?)) Gus. Isaac dan Hazel didapuk menjadi pembaca pidatonya. Menurut Gus, ia ingin mendatangi pra-pemakaman, jikalau ia sudah mati dan tidak bisa mendatangi pemakamannya.

Ada juga hari dimana tiba-tiba Gus meneleponnya, memohon dengan saat bantuan Hazel untuk memasang alat bantu (atau apa?) miliknya. Saat itu, ia tengah berada di pom bensin, ingin membeli rokok. Terang saja, Hazel khawatir dan hendak menelepon 911. Namun Gus menolak, karena ia ingin bisa mengerjakannya semua sendiri. Gus meraung-raung sambil menangis, seiring dengan datangnya ambulans. (ini juga ga nguati!!)

Setelah beberapa hari dirawat di rumah sakit, akhirnya, Gus berpulang. Hazel, yang tengah malam mendengar telepon rumahnya berdering, tiba-tiba terjaga. Dan ketika kedua orang tuanya masuk, ia tahu apa yang terjadi. Ia menangis sambil berteriak-teriak, perih rasanya ketika kita tahu bagaimana rasanya berada di posisi Hazel.

Saat hari pemakamannya, Hazel maju dan membacakan pidatonya. Namun, tak diduga, Van Houten juga datang disana. Ketika Hazel hendak pulang, Van Houten malah ikut masuk dalam mobilnya dan memberikan kertas. Van Houten bersikeras menceritakan mengenai akhir kisah KLB, yang mana kisah tentang anaknya yang terkena kanker. Tak kuat, akhirnya Hazel mengusirnya.

Di novel, Hazel akhirnya mengetahui surat-surat terakhir dari Gus lewat sobekan buku (cmiiw), namun di film, surat terakhir Gus untuk Hazel (dalam bentuk pidato untuk kematian) itu dikirim kepada Van Houten dalam bentuk email. And this email, surely makes you cry.

So, that's the end of story. Untuk novel dan film kurang lebih sama, hanya beberapa penyesuaian biasa. Untuk soundtrack, banyak artist ternama yang mengisi. Diantaranya, ada Ed Sheeran dengan 'All Of The Stars' di movie credit, ada Birdy dengan 'Not About Angel' ketika Hazel berkendara sepulang bertemu dengan Van Houten di pemakaman Gus dan 'Tee Shirt'. Ada juga Troye Sivan (5sos) dengan 'The Fault In Our Stars', Charli XCX dengan 'Boom Clap', M83 dengan Wait, Lykke Li, dan banyak lagi. Untuk lagu yang mendayu-dayu, listen to 'All I Want' by Kodaline dan So far, penjualan soundtrack ini cukup laris, terus menanjak seiring dengan film-nya sendiri.

Untuk hal-hal yang kurang sreg, sebenarnya cuma terletak pada pemain. Agak aneh aja, ngelihat Woodley dan Elgort yang jadi Beatrice Prior serta Caleb Prior di Divergent sebagai kakak-adik yang keluar dari faksi kini malah menjelma menjadi Hazel Grace serta Augustus Waters sebagai sepasang kekasih. Apa ini pertanda bahwa idiom 'Kakak-adik adalah pacaran yang tertunda' itu benar? WAH, SELAMAT YA! Buat kalian yang di brother-zone atau sister-zone, sebentar lagi kalian akan resmi menjadi couple! Cuma, ya tau deh ..
Overall aku puas banget karena filmnya bener-bener cocok dengan novel, sesuai sama imajinasi aku waktu baca, walaupun yang diganti cuma diiiiiikit banget. For the soundtrack, good enough lah buat lagu galau, apalagi Birdy dengan 'Not About Angel'nya.

Last, sedikit cerita dan curhat, mungkin. Kebetulan aku memilih untuk membaca novelnya dulu, karena waktu itu movienya belum masuk Indo, apalagi ketika baca di internet masih 22 Agustus, damn it. Dan ketika nonton, kayaknya emang ga nangis parah-parah, mungkin karena tempat duduk yang terlalu maju, atau karena aku udah tau jalan ceritanya? Dan, curhatnya, pas lagi enak-enak dengerin Ed Sheeran di movie credit, kan lagi bubaran. Tiba-tiba ada manusia-berbaju-hitam yang nunjuk aku, said something like 'itu juga' deh kayaknya, sambil ketawa ketawa. WTF, apa karena aku nangis? Emang sebioskop gaada yang nangis? Lah Kim Kardashian aja mewek ga karuan. Semoga yang lidahnya sekarang kegigit ga ngetawain orang lain lagi yang nangis di bioskop. Mau lu ngetawain Kim? Mau lu digigit sama Kanye West kayak Suarez? MAU? HAH?! *maap* *lagi emosi*

Yah, sekian dulu review dari The Fault In Our Stars. Kayaknya ada beberapa yang miss, sih. Maapin yah, karena ini cuma seinget aku aja nulisnya. Need to know your feedback about the movie. Soon I'll post music review, first album from Sam Smith, 'In The Lonely Hour'. Thankyou, fellas!

Rate:
4,5 out of 5 (Novel)
4 out of 5  (OST and Movie)

Minggu, 13 Juli 2014

Senja di Pagi Hari

Dingin malam membekap tawanya. Hitam hari ini hanya bertabur kerlip bintang yang labil; sebentar terang, sebentar hilang. Desing motor terdengar nun jauh di sana, tipis-tipis mengganggu keheningan malam.

Sudah lewat 3 jam dari jam tidur orang normal. Ketika orang-orang beranjak bangun, ia belum tidur. Ketika orang beranjak tidur, ia selalu memilih untuk terjaga. Sembari menatap gelapnya malam, berpikir mengapa ketakterhinggaan itu malah terasa menutupinya, melindunginya.

Katanya, gelap malam adalah saat yang pas untuk melepaskan hasratnya. Tidak ada orang yang melihat, pun mendengarnya. Sehingga, ia tak perlu menjawab pertanyaan-pertanyaan bodoh dari orang bodoh. Kerlip-kerlip bintang sudah menjadi santapan hariannya. Kadang, ketika rembulan menampakkan dirinya, ia menyapanya dengan senyuman, walau seringkali hanya menatapnya sambil membisu.
3600 detik itu telah lewat.

Momen-momen terindah dalam perputaran roda kesehariannya, menangkap warna jingga yang pucat di langit gelap. Ada harmoni tertentu ketika gelap malam itu berubah menjadi sinar-sinar lurus yang menembus awan, sambil menahan panas di hidung. Kadang, ia bingung menatap biru, atau merah yang menggantikan si jingga. Ia marah. Ia ingin jingga yang berada di sisinya. Jingga yang menyapanya hangat. Jingga yang memudar sambil menghangatkan. Jingga yang pergi terlalu cepat. Jingga yang ia sayang.

Lalu, ia jatuh terlelap dan menemukan bayang-bayang masa lalunya dalam lamunannya. Semua hal terasa ambigu, berada dalam batas antara maya dan nyata, ada yang palsu namun terasa asli. Ia mencecap lagi bagaimana indahnya mencinta, bagaimana indahnya merindu. Seperti pisau yang menggores lidahnya. Ia merindu, namun tak mampu berujar, jadi hanya sakit yang mampu ia dekap, sampai mentari menjelang. Ia yakin, orang itu masih tersenyum ketika ia berusaha mengejarnya. Ia yakin, orang itu masih berdiri di balik sinar mentari. Ia yakin semua itu nyata. Ia yakin, baru saja ia berusaha mengejar bayangan.

Warna jingga berbaur dengan gelap malam itu menjadi candu tak tertahankan. Hampir setiap hari, ia terjaga, demi menunggu pemandangan luar biasa tersebut. Ketika langit di sisi timur mulai bercahaya sedangkan di sisi barat masih bertabur bintang, mengerjap perlahan-lahan, takut dikalahkan sang surya. Warna-warnanya terasa, menyakitkan. Seperti kebahagiaan yang disusupi kegelapan, seperti putih tercoreng hitam. Menyakitkan memang, ketika memilih candu terhadap hal-hal yang mematikan. Metafor itu tidak benar-benar berguna sekarang, malah ia berusaha membantunya menarik pelatuk. Lebih cepat, lebih baik.

Ia tak tahu bagaimana mengakhiri semua ini. Caranya mengakhiri bagian-bagian dalam hidup (singkat,padat,jelas), tidak sama berat seperti ketika proses kehidupan mengakhiri hidupnya (menjengkelkan dan tak mau berakhir begitu saja).

Pada akhirnya, senja membiarkan mereka membuat cerita masing-masing.

Senja di pagi hari, 
bercerita bagaimana embun pagi membiaskan dirinya, menyusupi jendela-jendela rumah ketika langit mulai terang.
bercerita mengapa gelap malam adalah satu-satunya momen terindah dalam kurun waktu hidupnya.  bercerita mengapa sakit hanya diderita ketika semua orang tersadar (dan terlambat, tentunya.)
Senja di pagi hari, 
bercerita bagaimana kisah rembulan menjadi cinta monyetnya.
menjadi cinta pertamanya.
menjadi orang pertama yang mematahkan hatinya.
menjadi cinta terakhirnya. menjadi kisah sejatinya. 
Senja di pagi hari,  seringkali mengisahkan betapa kebetulan dalam kesejajaran hidup ini malah melukai.

Sama seperti bumi yang terus berotasi tanpa henti, ia akan terus menunggu dan mengejar bayangan itu. (Sampai sekarang? iya.)

Rabu, 02 Juli 2014

Such A Long Time!

Hi. Aneh juga rasanya, setelah sekian lama numpuk posting-an di laptop, dan ga pernah di post cuma karena "belom selesai," hehe. So, karena nge-blog termasuk resolusi 2014ku, yah mana mungkin aku berhenti nulis juga. But after all this time, kayaknya passion menulisku menurun. Seiring dengan sumber 'inspirasi' yang kini engga tau apa maunya, dan kemalasan luar biasa. Uhm, tapi gatau juga, nanti setelah masuk kelas 11 (science. hiks.) apa makin aktif karena makin stress. :))

Yah, sedikit bocoran aja buat Nancy yang kangen .. Aku lagi nulis cerita pendek (banget) tapi ya gitu, idenya datang dan pergi. So, yes. It takes a looooooong time to finish it, tapi semoga aja bisa ditangkep maknanya, for all the readers out there, thankyou!!

Mungkin selama ini ada yang tanya, kemana aku ga ngepost? (gak ada kok)
Err.. Kadang aku ngalami writer's block ga karuan, so aku pilih stop menulis, dan mengumpulkan ide-ide itu untuk dijadikan satu. Any idea how to stop thos fcking stupid condition? Sebagai orang yang hobi mikirin (hal ga jelas) dan hobi menulis, ini menyakitkan :'')

And for movie/music review, I've got a lot post!! Beberapa film terbaru yang udah aku liat, uhmm .. Ada Maleficent, The Fault In Our Stars, dan Transformers 4. Mau bikin resensi lengkap, tapi ngetik sampe kata ini aja udah pegel jarinya. Huhu T^T Dan untuk lagu, ada album 'Ghost Stories' dari Coldplay, Sensual Passion (lagu mandarin), Fire Within (lama) dari Birdy dan In the Lonely Hour dari Sam Smith. Pingin beli Head or Heart, tapi kok kayaknya ..
Novel?
Udah lama ga koleksi, sih. Baru aja beli.novel dari John Green, The Fault In Our Stars dan Abundance of Katherine. Pingin ngumpulin Mortal Instruments sama yang Clockwork itu, sama Hunger Games. Tapi ... Sinlui ada semua. Huahaha :))

Okaay, last. Galau emang penyakit saya, kayaknya. Sejenis kanker yang di kemo sampe bulu kakiku rontok juga ga bisa hilang. Some problems just appearing...and poof! Our suspect was gone! Udah deh, jadi berasa the end. But, the way he smile masih terasa menggerogoti hidupku. Dan hal ini terjadi saat aku membuka pintu baru. Sayang, isinya sama. Same shit, different guy. Ugh ..
Wisdom wordsnya, sih, JANGAN JATUH CINTA. Siapa sih yang mau jatuh? Suka boleh, sayang boleh, sampe nge fly juga boleh, tapi .. mendarat yang aman, ya. Jangan jatuh. Sakit. #sokbijak #sendirinyanubruk
Banyak sih yang mau diceritain, tapi kayaknya enak dibikin cerita, deh. Mungkin diluar sana ada yang senasib, atau ada yang memang setega itu *oops*

So, I'm hoping this post will be my reminder to keep writing! Soon I'll post my music/movie review, tiny little story (whaaaat?!) and a little story from my lovely class, XH. Udah ngetik dari mau UKK, tapi sampe sekarang males nge-post. Bantuin aku supaya tetap menulis ya, cause I'm still supporting all the bloggers all around the world. Thank you for reading!! <3

ps: i love you.

Jumat, 02 Mei 2014

Mainan Rusak

Jaman kita kecil dulu, enggak lengkap rasanya kalo ga pegang mainan. Yah, makanya aja ada julukan 'MKKB' alias masa kecil kurang bahagia, biasanya sih dibuat julukan ke orang yang udah gede, tapi hobinya main aja.
Nah, namanya juga anak kecil, diserahi mainan juga bakalan rusak, kan? Sebagian orang tua memilih memperbaikinya, walaupun sebagian memilih menyimpannya di gudang.
Suatu hal yang sudah pernah kita perbaiki, pastinya kualitasnya tidaklah sama seperti kalo kita beli baru. Secara fisik, mungkin ada sedikit cecel, baik terlihat maupun tidak. Bayangkan kalo kita memakai mainan yang sama untuk berkali-kali, lalu merusaknya lagi, dibenerin lagi, rusak lagi, begitu seterusnya sampai akhirnya mainan itu benar-benar sudah ga bisa dibuat mainan, dan ga layak disebut 'mainan'.

Sama seperti hal-hal di dunia ini, terlebih yang namanya dengan hubungan dengan seseorang. Berulang kali kita berusaha memperbaiki, kemudian berpura-pura semuanya sama seperti baru, kenyataannya?
Dan semakin lama, ketika mainan itu semakin rusak, akhirnya kita  memilih untuk membuangnya.. Disitulah kita sadar bahwa sudah dari awal harusnya paham bahwa banyak hal yang tak mampu kita perbaiki sendiri.
Sama seperti anak kecil, kebanyakan orang dewasa juga bisa merusak 'perasaan', dan membuangnya begitu saja, seperti lupa bahwa mainan itu pernah memberinya kenangan-kenangan bahagia. Bahkan kepada Tuhannya sendiri, mungkin itulah yang mereka lakukan.

Senin, 28 April 2014

Filosofi Hidup Dari Kamar Mandi

Beberapa hari terakhir, mandiku terasa indah nan menyenangkan layaknya film india yang ceritanya lagi jatuh cinta terus nari-nari sambil meluk pilar. Kenapa? Karena rasanya badan ini harum nian, sampai ingin pingsan saja rasanya. hiks.
Enggak ding, ini serius. Boleh dikasih hastag #BasedOnTrueStory, terus dibikin novel, dibikin film, masuk oscar, di-remake, dikenang sampai kiamat. Tapi kalo liat ceritanya, sebenernya ga penting kok. 
Yah, masih berhubungan dengan kamar mandi dan sensasi filosofi hidup yang ia keluarkan dari dinding-dinding lembapnya. Sebelum cerita dimulai, aku kasih tips membaca cerita di bawah ini biar dapet bayangannya. 
Di kamar mandiku, ada 3 sabun cair yang model botolan. Botol-botol ini, fisiknya sama persis! Bekas botol sampo semua. Nah mereka bertiga biasanya berdiri berdampingan, persis di kiriku. Jadi, aku otomatis ambil yang berdiri paling kanan (paling deket sama badan sebelah kiriku). Paham? 

(botol) (botoll) (botolll)      (aku)

nah, aku ambil yang botolll. Si botolll sendiri berisi sabun mandi warna biru, esensi 'manly' banget. merek gatsb*. Si botolll ini, suatu kali pindah lokasi dan aku gatau kemana perginya ia, aku galau gundah merana mencarinya lalu putus asa #tsah. Akhirnya aku memilih memakai si botoll, yang notabene berwarna putih ala sabun wanita yg mengidamkan kulit mulus ala tahu bandung. Putih nan halus. 
Dan lembaran hidup baru pun kumulai. Mandi bersamanya terasa berada di Surga, baunya semerbak kemana-mana. Tapi giliran babak bilas-membilas, kayaknya si sabun dari botoll ini ga tega ninggalin aku. Nempel aja, jadi badannya masih licin-licin gimana gitu. So, aku terpaksa menghabiskan kuota air melebihi biasanya, demi si sabun botoll ini. Kalo udah kepepet telat sekolah, akhirnya aku terpaksa langsung lap pake handuk, bilas lagi, handukan lagi. Huh. 
Dan begitulah hari demi hariku bersamanya. 
Tamat. 
Hehehe, nanggung ya? Belom selesai lah, masih ada lagi. Ini baru menjelang klimaks. 
Suatu kali, waktu lagi enak-enak mandi, tiba-tiba aku membaui harum yang familiar. Bau sampo. Dari badanku. 
It means, selama itu, aku mandi pake sampo. greget banget, untung ga keramas pake odol. 
"Wah, rambutmu kok baunya sama kayak gigiku?" kan ga lucu juga dibilang begini. 

Kadang, dalam hidup, kita melakukan banyak kesalahan. Ada yang kita sadari, banyak pula yang secara tak sadar. Masih bagus kalau kita akhirnya mampu membedakan ini benar-ini salah. Karena, pada kenyataannya kita lebih memilih untuk menutup mata pada kenyataan yang ada. Seperti contohnya, aku tadi. Mandi pake sampo. Mungkin, aku langsung setuju-setuju aja karena sampo emang baunya enak, jadi aku ga sadar kalo selama ini mandi pake sampo. Untungnya sekarang udah tobat, sampo rumah abis mendadak kena saya. Huhu

So, mungkin kesimpulannya kaya gini. 
Jangan menutup mata, telinga bahkan mulutmu untuk suatu kesalahan yang kau rasakan. Speak up, and do the right things! 
Dan jangan mandi pake sampo. Licin. 

Senin, 21 April 2014

ibuk.

Resensi Novel 'ibuk' - Iwan Setiawan

'Ibuk melalui hidup sebagai perjuangan. Tidak melihatnya sebagai penderitaan.' - hlm 240

Judul    : ibuk,                                      Penerbit           : PT Gramedia Pustaka Utama
Penulis : Iwan Setiawan                        Tahun terbit     : 2012

Salah satu novel inspiratif yang dapat kita temui di Perpustakaan Thomas Aquino SMAK St Louis 1 adalah novel 'ibuk,'. Novel ini merupakan novel kedua karya Iwan Setiawan sesudah '9 Summer 10 Autumn'. Dalam buku ini, kita dapat lebih mengerti mengenai kisah hidup dari Iwan alias Bayek. Ibuknya seorang gadis polos, Tinah yang jatuh cinta dengan seorang playboy pasar Batu, Sim. Keduanya memutuskan untuk menjalani hidup bersama, baik senang maupun susah. Keluarga sederhana tersebut mempunyai 5 orang anak, yakni Isa, Nani, Bayek, Rini dan Mira. Ibuk membesarkan mereka dengan kesederhanaan serta kerja keras sang Ayah yang setia membawa bemonya berkeliling kota Batu. Walaupun hanya bisa makan dua butir telor dadar untuk 7 orang, mereka merasa hal tersebut merupakan 'lem' yang merekatkan mereka bersama.
Pekerjaan ayahnya sebagai sopir angkot memang berat. Kadang, uang belanja ibuk terpaksa digunakan untuk mereparasi angkot bapak. Ibuk terkadang menangis sesenggukan. Hal tersebut membuat Bayek bertekad untuk membahagiakan Ibuk. Ibuk terus berdoa setiap hari agar kelima anaknya mendapatkan pendidikan yang layak, didasari pengalaman hidupnya yang tidak tamat SD. Sang ibuk terus berusaha menyisihkan uang untuk membayar SPP, walaupun harus berhutang sana-sini.
Salah satu bagian menarik dalam novel ini adalah ketika Ibuk bertemu dengan Mbah Carik, sang orang pintar di desa mereka. Mbah Carik melihat Bayek yang berjalan di belakang Ibuk, dan ia mengatakan bahwa suatu saat nanti, Bayek mampu membahagiakan keluarga mereka. Awalnya, Ibuk tak menanggapi hal tersebut dengan serius. Namun, belasan tahun kemudian hal tersebut terbukti dengan hasil kerja keras Iwan. Novel-novel karyanya meledak di pasaran, diiringi dengan kualitas yang menjanjikan. Novel ini sendiri, bisa dianggap sebagai 'buku keluarga' yang Bayek maksud dalam novel ini. Ia pernah mengungkapkan bahwa keluarga mereka tak memiliki foto keluarga, dan ia memilih untuk menulis buku tentang keluarga manisnya.
Berkat keteguhan doa Ibuk dan Bapak, Bayek pun akhirnya mampu memulai karirnya di New York. Selama 9 musim gugur dan 10 musim semi ia lewati di sana sebelum akhirnya memutuskan kembali ke Batu untuk berkumpul bersama keluarganya. Namun sayang, suatu ketika sang ayah jatuh sakit, dan kemudian berpulang ke surga karena sakit. Sang ibuk sangat terpukul ketika belahan jiwanya berpulang, begitu juga dengan 5 anak mereka yang kehilangan panutan hidupnya.
Bagi kalian yang suka membaca, ‘ibuk,’ termasuk salah satu yang patut dibaca. Kisah dalam novel ini mampu membuat kita semua tersenyum, tercengang dan merasa bersyukur atas hal-hal yang mungkin terlihat kecil, namun melengkapi kebahagiaan di kehidupan ini. Banyak pelajaran penting dalam novel ini, diantaranya kerja keras dan ketekunan serta doa yang mampu membantu kita dalam mengarungi sulitnya kehidupan (/jen)


Senin, 14 April 2014

m a g i c .

Such a long time to not updating this blog, huh? I'm on-my-way to having my extra hell-time on my last junior time at Sinlui. Wish me luck, buddy. Ga kerasa ternyata sekarang udah bulan April. Bulan yang ditunggu-tunggu mulai awal Januari, kebingungan karena cuma punya empat bulan tersisa, dan ternyata empat bulan tersebut ga ada gunanya sama sekali, malah memperburuk situasi. Dan kalau sekarang tanggal 14, berarti ..