Senin, 31 Maret 2014

360°

Momen kehilangan bukanlah hal terbaik yang bisa dilalui oleh seseorang. Mungkin, kehilangan seseorang yang begitu menyebalkan akan menjadi bagian yang menyenangkan, tapi secara tak langsung kita juga menghilangkan sebagian kecil dari diri kita, yang dibentuk oleh sikap orang itu. 
Dari sisi manapun, yang namanya 'kehilangan' itu tidaklah indah.  Simpelnya, kalian kehilangan orang tua. Indah? Enggak. Kehilangan musuh. Enak? Iya. Tapi kalian akan menjadikannya indah ketika musuh itu menjadi teman.
Tapi kalau kehilangan sifat orang yang kalian pahami dengan benar? Mungkin rasanya seperti kehilangan sebagian jiwa... Tapi kalian tidak tahu kemana bagian tersebut pergi. Kalian merindukannya.. Menginginkannya kembali, tapi kenyataannya tidak semudah itu. Bagaimana rasanya kehilangan orang yang kalian kenal dengan baik? Bagaimana rasanya merindukan perasaan nyaman yang kini berganti menjadi rindu tak tersampaikan (karena entah dimana dia yang dulu) ? 
Aku ngerasa perlahan-lahan ada hal-hal kecil yang direngut oleh kenyataan, lalu disubtitusi dengan hal lain yang belum tentu kita terbiasa. Mungkin memang susah untuk mengambil peran di kehidupan seseorang ketika kita bukanlah pemeran utama. 
Kalau katanya keadaan ini sudah berbalik seratus delapan puluh derajat, aku sudah jungkir balik tiga ratus enam puluh derajat. Mungkin hal ini terus bergulir, hingga menyentuh angka tak terhingga. 
Dan, sebelum ini semua terlambat, katakan padanya. Karena biasanya perasaan tertinggal tanpa sempat terucapkan. Kalaupun pada akhirnya kalian merasa kecewa dengan kenyataan, setidaknya kejujuran yang menyakitimu. Truth hurts, lies heals

Senin, 24 Maret 2014

In Fact..

Few times ago, aku baru aja liat DP BBM temen tentang fakta psikologis.

"Ketika seseorang terlalu banyak tidur atau bahkan sulit tidur, kemungkinan besar ia sedang merasa kesepian" Hell yeah. Dulu aku sering kebanyakan tidur. Bukannya kesepian aja, depresi, stress, semua berkumpul menjadi satu. Dan sekarang, aku malah ga pernah bisa tidur dengan tenang. Menjelang jam 2 pagi aku baru bisa tertidur, jam 5 udah bangun lagi. Itupun sekarang harus dengerin lagu lagi, kaya dulu. Aku sempet berhenti dengerin lagu waktu tidur karena katanya otaknya nanti ga bisa istirahat, but it didn't change anything. I need super multivitamin, or maybe some weed to makes me happy.

"Ketika seseorang terlalu sering berkata kasar, kemungkinan besar ia sedang membenci dirinya sendiri" Well it shocked me first. Honestly, last few days, kerjaanku cuma misuhi orang lain dan aku ga ngerti kenapa. Bahkan untuk sekedar guyonan, aku harus ngumpat-ngumpat ga jelas. Padahal biasanya aku ga pernah separah ini dalam ngomongin kata-kata khas surabaya itu. Sampai pada akhirnya aku baca ini dan akhirnya aku paham. I'm hating myself. I'm hating myself for not having you, I'm hating myself for loving you, I'm hating myself for everything that I think I have, but in fact I didn't have anything.

I just don't understand why things change so fast. 3 weeks and .. Let it go, let it go! Sepertinya melepaskan seseorang merupakan ide terindah yang bisa direncanakan mulai sekarang. Mana ada orang yang bisa mempersiapkan kepergian orang lain yang ia sayangi? Maksudku.. Kamu ngerti dia bakalan pergi, dan sekarang kamu sudah siap-siap karena takut menerima perasaan tidak menyenangkan. Sucks. Ini lucu sekali.

Hidup ini penuh dengan ketidak adilan. Orang yang kamu lindungi dengan sepenuh hati, malah menjadi orang yang menyakitimu dengan pisau tertajam. Bahkan bukan hanya sekedar pisau, mungkin pedang-nya fruit ninja yang membelah-belah hatimu menjadi semangka yang 'mak-crott!'

And things that I completely don't understand is.. When you start forgetting someone, but everything that you do reminds me of them. HAHA! This is what it feels like. Hurt. Yaudah gitu aja. Mau ngelupain tapi malah diinget-ingetin. Situ nulis judul lagu yang tiap hari ta puter, bahkan aku sudah jatuh cinta sama acoustic versionnya. Situ nulis judul buku yang lagi ta baca, malah bikin orang jengkel. People thinks that I'm your huge fans. Lol. Aku ga ngerti. Kenapa dulu kita ga pernah kaya gini, sedangkan disaat aku mau angkat bendera putih semua seperti bilang 'JANGAN! Pegangan lagi! Kayaknya kalian masih jodoh!' No. If you love someone, you don't destroy them. But you did it.

Rabu, 19 Februari 2014

Beat Songs!

Post selanjutnya tetap diisi dengan lagu-lagu yang mengalun 'nyaris' setiap hari di telinga, entah waktu baru aja bangun pagi, lagi di jalan, istirahat, sampe tidur lagi. But for now, this is some of my beat songs yang masuk tracklist 'jebjeb' (namanya enggak kreatif. maap.) di hape. And as a bonus, I give it some awesome lyrics from the songs!! Check it up~

David Guetta
1. Titanium : Udah tau kan lagunya kaya gimana? Perasaan kemana-mana pasti sempet aja dengerin lagu ini, dan udah buuuuaaaaaanyaaak orang nge-cover lagu ini.
"You shoot me down, but I won't fall, I'm Titanium ... *beat musics*"
2. She Wolf : Ini juga sebangsanya Titanium, but some people are more familiar with Titanium.
"You loved me and I froze in time, hungry for that flesh of mine"
3. Without You: ENAK!!! Ada versi pelannya kalo ga salah, dinyanyiin sama Glee. Emang sih pertamanya kenal ama versi Glee, giliran denger versi aslinya .... Geleng-geleng deh kepala.
"I can't take one more sleepless night without you"
4. I Can Only Imagine: Enak juga nih lagu, recomendded abis. Video klip-nya juga bisa dibilang cukup keren dan futuristik :D
"You're a firework, brighter in the dark, so let's turn off the lights and give me that spark"
5. Little Bad Girl: Enggak banyak bagian beat-nya sendiri, kebanyakan dicampur sama yang nyanyi (Ludacris and Taio Cruz)
"she got my heart jumping and my adrenaline pumpin' and gunnin'"
6. Just One Last Time: Beat-nya kenceng, walaupun mirip-mirip model lagunya sama lagu lainnya, but good for dance!
"This is the end station, but I can't move away from you"
7. Turn Me On: Lagunya enak, iya sih gara-gara minaj hiks but mv-nya seru abis!
"Make me come alive and turn me on!"
I guess kebanyakan orang pasti udah pernah denger lagu di atas. Habis ga apdet-apdet banget sayanya, hihi


Afrojack
1. As Your Friend: Kenalan pertama kali sama lagu ini, hik gila enaaaaak parah, beat-nya bikin orang ketagihan, kalo sempet buka video klipnya deh sampe habis, buat yang laki pasti dapet bonus (kalo perhatian ...)
"I used to be your man but today I woke up as your friend."
2. Take Over Control: Bikin nagih juga nih lagu, awal-awalnya emang agak gak jelas, but begitu mendekati chorus (or whatever is that), badan pasti jadi pingin goyang-goyang~
"I think it's time to let you know the way I feel when you take hold, one single touch from you I'm gone, still got the rush when I'm alone"
3. Last Night: Yah, walaupun bareng om Pitbull (udah bosen), lagu ini enak banget beat-nya. Enggak keganggu sama si Pitbull pokoknya. Tetep joget!
"convenient amnesia, remember the good, forget the bad, remember the present, forget the past."
4. Can't Stop Me: Tetep dengan model si Afrojack, lagu ini cocok buat orang yang memang bawaannya mau dugem (kalo menurut aku ... ) lebih banyak beat-nya, kalo kamu lagi berdiri pasti pantat bawaannya pengen gerak (kebelet muahahah) JUMP!
"If this was the last dance of the night, will you join 'til the morning light"
5. The Spark: Mantab dah ini lagu, lebih enak dari atasnya sih huahaha, recomendded dah :D
"I'm crashing through the dark, we're alright, we all got the spark tonight"

Calvin Harris
1. We Found Love: Inget lagu ini bawaannya pengen ketawa aja .. Hahaha keinget kalo lagu ini sering banget keluar di MTV, trus si Riri lagi sama cowok, aku pikir Harris itu si cowok dan bakalan nyanyi, tapi di lagunya enggak nyanyi-nyanyi. Taunya ... DJ. But, I bet 80% of y'all already know this song, right?
"we found love in a hopeless place" (liriknya cuma gitu aja sih.)
2. I Need Your Love: Ini enak parah! Udah liriknya melted-melted ada historynya pula, beat-nya ngejoss, dijamin deh .. Pasti suka sama lagu ini.
"When everything's wrong, you make it right. "
3. Sweet Nothing: Lagu yang masuk nominasi Grammy Award for Dance music!! Bayangin, masa iya enggak enak sih? Oiya, coba dengerin waktu Welch nyanyi bagian 'sweet nothing~', pasti ngakak-ngakak kalo ga ngerti judulnya. Ada yang dengernya 'sweet dolphin', 'sweet elephant', 'sexy elephant', duh =))
"So I put my faith in something unknown, I'm living on such sweet nothing. But I'm tired of hope with nothing to hold, I'm living on such sweet nothing"
4. Under Control: Lagunya baru aja keluar (rasanya sih gitu) Lagunya bisa dibilang lumayan, but tetep aja enak sweet nothing. Ciri khas Calvin Harris, sampe tengah-tengah lagunya baru nyentak.
"I'm too afraid of my heart to let you go .. "


Avicii
1. You Make Me: beat-nya lumayan, emang enggak seberapa enak buat joget sih, and ... agak mboseni. Untung liriknya sedikit membantu :')
"All my life I've been, I've been waiting for someone like you"
2. I Could Be The One: entah kenapa, lagu ini catchy banget (di telingaku). Beat-nya nyentak, unik pula :))
"Do you think about me when you're all alone? The things we used to do, we used to be"
3. Wake Me Up: Awal-awalnya emang kaya lagu koboi, giliran masuk tengah-tengah enak banget deh :D
"so wake me up when it's all over, when I'm wiser and I'm older "
4. Levels: awal mula kemunculan Avicii, lagu ini jadi terkenal banget (and i don't give a shit for that time) catchy juga di telinga, liriknya cuma dikittt banget, lebih banyak main di musik and those make up. Enak buat pembangkit semangat ..
"Oh, sometimes, I get a good feeling, get a feeling that I never, never,never, never had before."

Zedd (FINALLY!)
1. Shave It Up: Awal masuk lagu,  beat-nya udah kerasa banget, but this just lilbit sounds like Guetta awal-awalnya. Keseluruhan model lagu ya begitu-itu aja.Kaya gimana ya, jelasinnya. Susah. Langsung dengerin aja deh ;)
"Shave it up, Shave!"
2. Spectrum: Enakkkk one of my fav, liriknya sesuatu banget, beat-nya juga unik, ada sedikit perubahan (enggak gitu-gitu aja maksudnya) awalnya pelan-pelan, lambat laun mulai cepet, andddd I bet you're gonna love this!
"we'll run where lights won't chase us, hide where love can save us, I will never let you go."
3. Clarity: Udah pasti tahu lah, lagunya cukup terkenal kok sekarang diputer dimana-mana. Mirip sama spectrum, awalnya pelan-pelan lama-lama nge-beat (and that beat gonna makes you move!)
"cause you're the piece of me, I wish I didn't need, chasing relentlessly, still fight and I don't know why"
4. Stay the Night: Enaaaaak anti bosen denger lagu ini, video-klip nya sangar and he's working with Hayley from Paramore! What a great duet, awal-awalnya juga pelan (with piano..) dan beat-nya ngangenin abis. Beda deh sama yang laen, you're gonna love this one too!!
"I know that we were made to break, so what? I don't mind."
5. Slam the Door: Lagu yang 'unik'. Gitu aja sih, sebenernya.
"Don't slam the fucking door, Shit!"
6. Stars Come Out: beat-nya beda sama yang lain! enggak tau kenapa, ini lagu unik banget, beat-nya kaya ada yang gimana gitu loh. Aku nggak bisa bahasa musik gini huhu sedih #plak
"You light me up everytime the stars come out"
7. Find You: Mirip-mirip sama lagunya yang lain, tapi ini lebih berkesan kalo diinget-inget.  Mirip sama Spectrum, apa mungkin karena sama-sama ada Matthew Koma?
8. Into the Lair: Lagu yang sangar!! Enggak ada duanya deh. Yang pernah liat Mortal Instrument City of Bones, inget scene waktu Jace vs Vampire (or werewolf?) Iya, ini dia lagunya! Udah, download aja. Emang pendek lagunya, buat yang suka edit-edit nih lagu bisa jadi kelinci percobaan :D btw enggak ada liriknya.
9. Codec: Enggak kalah sangar sama Into the Lair. Kenapa sama itu? Karena berdua enggak ada liriknya. Pernah liat 'now you see me'? Lagu ini jadi salah satu pengisi OSTnya, waktu mau pencurian uang di bank (kalo betul)

The difference between Zedd and Calvin Harris (menurut ane):
Kalo Zedd ini beat-nya ada nadanya, kalo Calvin sih kayaknya statis and so-here-it-goes aja, buat joget-joget gitu.

Okay, jadi itu beberapa lagu yang aku inget, sebenernya ada banyak lagu lain sih (krewella-alive dan segala remixannya, slow down, takin' back my love, de-el-el ..) Thankyou for reading!

Kamis, 23 Januari 2014

i.. i..


Kamu dulu ada di sana
Melangkah perlahan-lahan
Lalu berhenti dan berbalik.

Aku sekarang di sini
Melangkah lebih pelan
Berharap derap kakimu menyusulku
Tapi di belakang sana
Sunyi .. i .. i ..
Kenapa?
(dan disisipi beribu tanda tanya lainnya.)

Selasa, 07 Januari 2014

barista.

Lagu itu melantun pelan dari speaker di ujung kafe ini. Kafe yang menyediakan berbagai macam kopi. Sudah ada banyak di penjuru kota, dengan berbagai macam suasana dana desain yang menarik perhatian. Tapi entah kenapa, suasana temaram disini berhasil membuatku betah.

Para pria berjubah hitam lalu lalang sekenanya di pintu masuk. Menunggu klien untuk memutuskan tender, lalu merayakannya sambil tertawa lebar-lebar. Padahal, tujuanku ke sini hanyalah mencari ketenangan, tak disangka malah mendapatkan huru-hara. Aku memilih mengungsikan diri, mencari suasana yang menenangkan. Sudut kafe ini? Jangan kau tanya, tempatnya jauh lebih suram dari rumah hantu yang biasanya mendadak muncul di mall.

Tapi aku memilih mencobanya. Apa yang salah dari mencoba hal baru, selain tidak mencobanya?
Sembari membawa hot coffee latte-ku menjauh, aku mencari bangku yang kosong. Dan tepat seperti dugaanku, semuanya kosong. Suasananya yang sepi nan suram tidak berhasil membuat orang ingin mencoba. Baguslah, pikirku. Dengan begini takkan ada yang menganggu pekerjaanku.

Menulis kisah-kisah yang tak pernah dibaca orang lain selain diri sendiri, itulah aku. Berusaha menekan diri, mencarikan cita-cita yang pas, sayangnya tak pernah ada yang cocok. Sekarang, pelampiasan terbaruku adalah menulis. Merangkai kata demi kata, menjadikannya kisah yang entah dimana menariknya, aku sendiri bahkan tak tahu.

 ***

Hari ini, lagu lagu yang melantun sedang berubah haluan. Bukan lagi pop macam Maroon5, Coldplay, bahkan lagu Noah yang sedang nge-hits pun entah kenapa, seperti hilang ditelan bumi. Kini, lagu-lagu romantis memenuhi ruangan ini. Digantikan dengan lagu-lagu Mariah Carey, balada-nya Michael Jackson, Westlife di seantero ruangan. Apa radionya sedang ganti saluran? batinku

Seiring dengan perubahan model lagu yang semakin menjadi jadi, aku pun memilih berpindah bangku menuju depan bar. Free space, lumayan untuk menjernihkan pikiran. Aku pun mengganti minuman pesananku menjadi Iced Moccha Frappucinno.

“Ugh, manis sekali!” pekikku kaget saat lidah ini menyentuh gelas.

“Oh, terimakasih!” jawab barista di balik meja. Aku termangu, kau pikir aku bicara padamu?

“Ah, aku tahu kau merasakan kopinya, bukan aku,” sahut si barista sambil tertawa. Sial, betapa malunya aku. Kenapa ia bisa mengetahui isi pikiranku? Tapi, setelah dipikir-pikir, ternyata ia manis juga, sama seperti menu hari ini.

***

Perkenalan manis itu kini berujung pada kunjungan rutin ke kedai yang berhias warna langit ini. Hari demi hari berlalu.Tak disangka aku berhasil meng-unlock badge Century Club di jejaring sosial foursquare, atas nama kafe tua dengan barista manis itu.

Bedanya, kini aku sudah tahu bagaimana aku harus memanggilnya. Tidak, tentu bukan dengan “Si Manis” atau “Sweety.” Kau pikir aku sedang bersenda gurau dengan seekor kucing?

Aku bahagia bisa tertawa bersamanya, setiap kali aku datang dan duduk di kursi tinggi merah di pojok, yang selalu kosong setiap jam 4 sore, lalu ia bertanya bagaimana hariku. Kadang, ketika aku sedang sedih dan muak atas segala hal, ia memutarkan lagu-lagu bahagia dan, tentu saja hal itu membuatku merasa lebih baik. Segelas hot mocchacino turut serta meredakan sakit kepala.

“Mungkin, kesempatan kali ini adalah saat yang baik bagi kita untuk saling mengenal satu-sama lain. Bolehkah aku menemani siangmu, bidadari nyasar?” candanya. Aku tertawa malu-malu. Sikap ramah memang membuat orang mudah menyesuaikan diri dengannya. Kami mengambil bangku coklat yang kasa-kasanya mulai termakan usia, mungkin tidak betah dengan pantat-pantat yang menghantamnya.

“Kamu tidak memasukkan apapun ke cangkir ini, kan?” candaku.

“Jangan kebanyakan negative thinking. Ga baik.” Ia menjawab dengan tegas, walaupun di telingaku itu terdengar ketus sekaligus sedikit menyentak.

“Yah, apa salahnya dengan berpikiran hal-hal terburuk yang akan terjadi? Toh dengan begitu aku akan lebih siap menerima kemungkinan yang sedikit lebih baik.”

“Kalau kamu kebanyakan mikir yang jelek, nanti hidup kamu ga bahagia. Jangan mikir yang jelek-jelek, ke orang lain, ke kamu sendiri juga ga boleh,” jawabnya enteng. Aku terhenyak. Barista dengan gigi rapi seputih gigi yang di iklan itu, kini sedang beradu argumen denganku. Aku mengakhiri perdebatan itu dengan hisapan pertama di bibir cangkir. Sengaja kukeraskan volumenya, setidaknya aku ingin membuat dia sadar kalau dia menang.

Kami lalu mulai membicarakan hal-hal aneh di dunia ini. Antara aku dan dia. Dia, barista muda yang baru saja menyandang gelar sarjana sastra, lebih memilih berada di balik bar-bar kedai kopi daripada menyusun frasa-frasa menjadi setumpuk buku pelajaran. Aku, pelajar yang berusaha segera lulus dengan membantai segepok tema skripsi yang tidak jelas kemana arahnya. Dia, yang lebih suka cahaya matahari menembus jendela kamarnya secara menusuk-nusuk, berselisih dengan korden-korden yang masih malu-malu. Aku, yang tergila-gila pada kopi, entah apapun jenisnya. Dia, dan aku, yang kini berdebat, lalu mengakhirinya dengan pemikiran yang amat, sangat dalam.

“Tidak heran. Kamu belajar sastra. Tentu saja, dengan bekali itu kamu bisa berkata-kata seperti itu.”

“Yah, sayangnya aku bukan belajar filsafat aja. Bisa-bisa aku jadi pujangga yang berusaha merebut hatimu, lewat puisi berlapis kopi,” candanya lagi. Otot-otot pipinya tertarik, menyuguhkan seulas senyum yang kini menghiasi hari-hariku. Dan aku yakin, melupakan hari itu bukan opsi yang baik bagi hidupku.

Aku berusaha menampik suara-suara di kepalaku yang mengatakan ada sesuatu pada dirinya, yang membuatku ingin datang, datang dan lagi. Tak hanya untuk menikmati kopi, aku juga ingin berbincang-bincang dengannya lagi.

Tapi aku takut jatuh cinta padanya.

 ***

Aku merindukan segelas kopi yang membuat hari-hariku lebih bersemangat. Aku butuh asupan fisik, sekaligus jiwa. Hari-hari ini begitu panasnya, bahkan AC mobil terpaksa aku pasang dengan suhu terendah, walaupun balasannya aku akan memelihara lendir kekuningan di hidung.

Ia berada di balik bar. Aku bisa melihatnya, mengusap-usap meja. Merapikan peralatannya, mencuci beberapa cangkir spesial, karena dia sendiri yang mencucinya. Baru kusadari hanya cangkir cangkir itu saja yang kupakai selama minum di sini. Aku memandanginya dari jauh, tercenung, memikirkan guratan-guratan yang terbentuk karena memperhatikan lekukan whip cream yang kadang keluar jalur. Dan tiba-tiba, ia melihatku.

Ia tersenyum. Dan aku merindukannya.

Kami kembali duduk berhadap-hadapan, di kursi yang dulunya pertama kali kami duduki, menjadikan itu kencan pertamaku yang sangat berkesan. Ia membawakanku segelas iced coffee. Sikapnya tidak berubah. Dingin, sedingin kopi yang baru saja diberikannya padaku. Cuek, menungguku bertanya hal-hal absurd, yang kemudian dijawab secara puitis olehnya.

“Kau punya tanda lahir?” tanyanya tiba-tiba.

“Yah, ada di sekitar leher. Memangnya kenapa?”

“Ada orang yang bilang, kalau tanda lahir adalah lokasi luka kita, yang menyebabkan kita pulang ke atas sana, melayang-layang sebagai jiwa yang bebas, dan kini berada di sini. Jadi, sepertinya di kehidupan yang lalu, kau terbunuh di leher. Seru juga, tuh,” sambungnya. Ia tersenyum, kemudian tertawa-tawa ringan. Baristaku sayang, aku merindukan tawamu.

“Kau punya tanda lahir?” kini giliranku bertanya padanya. Memastikan bahwa bisa jadi ia dulu partner berperangku.

“Yah. Disini.” Ia menunjuk dada. Entah apa yang ia maksud. “Kau tahu, mungkin dulu aku mati karena tertusuk di sini. Dalam, sangat dalam. Karena rasa sakit itu bisa terbawa menembus waktu, dan sampai saat ini, perasaan itu masih bersarang. Jadi, kau tahu kan makna tanda lahir?” Pertanyaan retoris serta senyumnya kini menjadi penutup perjumpaan sore yang mendadak mendung.

***


Kaulah sang putri di arena perang 
yang menusuk dan menorehkan luka 
namun lupa untuk kembali lagi 
karena hatinya sudah mati

Adakah hari masih tersisa bagiku, untuk menjatuhkan hati pada dirimu?


***
 
Butuh waktu yang tidak lama untuk membuatku kembali ke kedai itu. Mencari-cari sosok barista bercelemek krem, yang sedang bersenandung ria menyanyikan nada-nada sumbang, mencarinya yang kadang-kadang tertawa bangga setiap melihat hasil karyanya, lalu menggoda si pemesan karena kegirangan.

Tapi dia tidak ada.

Hanya ada aroma tubuhnya yang tersisa, dalam sepucuk surat yang diselipkan di sudut kursi coklat tua itu. Aku tahu, itu untukku.

***

Kepadamu, aku pulang. 
Diiringi rintihan tangis kerinduan 
Menanti pelukan di bawah hujan 
Sembari menggengam foto kenangan

Aku tahu kau tahu 

Namun kau segan berada di sana 
Berjejak kaki, melewati hari 
Hanya menanti

Aku bergejolak dalam badai 

Dan kau diam layaknya awan

Kepadamu, aku kembali 

Membawa sejuta harapan yang hancur 
Seperti meteor yang kehilangan panasnya 
Dan remuk setiap kali dihentikan waktu

Aku ingin merengkuh langit 

Agar kau selalu dalam dekapku 
Berusaha menjagamu dalam waktu 
Karena yang kudapat hanya sakit

Tetesan kristal basah dan mengembun 

Menyeruak aroma lama menyentak jiwa 
Seakan ingin berkata 
“Apa kau sadar akan kasihku?”

Aku merindumu 

dalam setiap pergerakan bandul detik

***

Kini, hari-hari hanyalah bermakna dengan segelas iced coffee yang kadang berganti kedudukan dengan hot mocchachino, cahaya-cahaya yang memaksakan diri masuk melalui celah jendela di ujung timur ruang gelap ini, serta aroma yang tertinggal, dari si barista manis.

Kamis, 05 Desember 2013

What's Maturity?

Kedewasaan .. Suatu kata yang seringkali kita dengar. Entah dipandang dari sisi sebelah mana, fisik ataukah sikap. Orang-orang memiliki tolak ukur yang berbeda-beda. Entah dari umur, jenjang pendidikan yang menginjak 'sekolah-menengah,' tingkah laku, bahkan sampai sekedar tinggi badan yang mulai bisa menyentuh pencetan lift lantai teratas, walaupun harus jinjit-jinjit ga jelas.

Semua sudut pandang tentang kedewasaan memberikan efek yang berbeda-beda.Bagaimana kita memandang kedewasaan orang lain, juga merupakan suatu bukti mengenai kedewasaan kita. Bagaimana kita menilai orang, memberikan saran-saran, mendengarkan keluh kesah, mengambil makna suatu kejadian. Yup, beberapa hal itu menunjukkan bagaimana sikap kita sebagai orang 'dewasa'.

Sebuah percakapan kecil mengenai kedewasaan sempat beberapa kali mengusik pikiranku. Suatu kali, seseorang mengatakan bahwa aku cukup dewasa, karena seringkali membantunya mendengarkan kisah kemudian memberikan saran-saran, walaupun rok masih warna biru tua. Dan kali lain, seseorang mengatakan aku sudah dewasa untuk melakukan segala sesuatu berdasarkan keputusanku, bukan lagi bergantung pada orang lain, karena warna rok sudah berganti menjadi abuabu.

The point is, dari sisi mana aku harus menilai mana yang baik dan benar?

Hal ini terus mengusikku, sampai suatu saat aku sadar, kedewasaan hanya berdasarkan sudut pandang kita sendiri. Kita menjadi amat-sangat merasa 'dewasa' ketika mampu menyikapi berbagai masalah, meng-handle nya lalu menaklukannya, menjadi seseorang yang mau didengarkan khalayak ramai. Dan kedewasaan itu berubah menjadi tingkah laku kekanak-kanakan ketika apa yang kita lakukan terasa bodoh, tidak berguna, menyebalkan layaknya anak kecil. Tapi sedikit orang yang merasa dirinya kekanak-kanakan pada saat ia melakukan tindakannya. Sampai suatu saat ia menyadari mengapa tingkah lakunya pantas dibilang 'bocah'.

Bagaimana bila membuktikan kedewasaan dengan meninjau kasus milik anggota dewan yang menutupi pelat merah dengan warna hitam? Apakah tindakan tersebut bisa dibilang 'cukup dewasa'? Apakah kita, sebagai rakyat yang memilih mereka menjadi wakil kita ternyata tidak cukup dewasa Bagaimana dengan seseorang yang lebih memilih menangis sendirian daripada mengungkapkannya sendiri? Apakah ia cukup dewasa karena membiarkan masalahnya dipegang sendiri, atau ternyata ia sangat kekanak-kanakan karena ia memilih menangis bombay seperti anak kecil?
Yap, inilah mengapa sudut pandang dan kedewasaan kita juga perlu dipertanyakan.

Hidup masa ini, ternyata menuntut banyak orang untuk menjadi pribadi yang benar-benar matang. Beberapa orang berusaha mendongkrak kedewasaannya habis-habisan. Berusaha tampil layaknya mahluk metropolitan, menjadi pribadi yang tidak peduli akan satu sama lain karena merasa urusannya jauh lebih berat daripada milik orang lain, menjadi orang yang kelihatan tegar dimanamana, dan berusaha membuat orang berkata, 'wah kamu sudah cukup dewasa, ternyata.' Apakah menjadikan diri kita dewasa sebelum waktunya, merupakan pilihan yang tepat?

Kedewasaan .. Sesuatu yang kadang perlu kita pertanyakan, pertama bagi diri sendiri, lalu mulai menimbang-nimbang milik orang lain

What's Maturity?

Kedewasaan .. Suatu kata yang seringkali kita dengar. Entah dipandang dari sisi sebelah mana, fisik ataukah sikap. Orang-orang memiliki tolak ukur yang berbeda-beda. Entah dari umur, jenjang pendidikan yang menginjak 'sekolah-menengah,' tingkah laku, bahkan sampai sekedar tinggi badan yang mulai bisa menyentuh pencetan lift lantai teratas, walaupun harus jinjit-jinjit ga jelas.

Semua sudut pandang tentang kedewasaan memberikan efek yang berbeda-beda.Bagaimana kita memandang kedewasaan orang lain, juga merupakan suatu bukti mengenai kedewasaan kita. Bagaimana kita menilai orang, memberikan saran-saran, mendengarkan keluh kesah, mengambil makna suatu kejadian. Yup, beberapa hal itu menunjukkan bagaimana sikap kita sebagai orang 'dewasa'.

Sebuah percakapan kecil mengenai kedewasaan sempat beberapa kali mengusik pikiranku. Suatu kali, seseorang mengatakan bahwa aku cukup dewasa, karena seringkali membantunya mendengarkan kisah kemudian memberikan saran-saran, walaupun rok masih warna biru tua. Dan kali lain, seseorang mengatakan aku sudah dewasa untuk melakukan segala sesuatu berdasarkan keputusanku, bukan lagi bergantung pada orang lain, karena warna rok sudah berganti menjadi abuabu.

The point is, dari sisi mana aku harus menilai mana yang baik dan benar?

Hal ini terus mengusikku, sampai suatu saat aku sadar, kedewasaan hanya berdasarkan sudut pandang kita sendiri. Kita menjadi amat-sangat merasa 'dewasa' ketika mampu menyikapi berbagai masalah, meng-handle nya lalu menaklukannya, menjadi seseorang yang mau didengarkan khalayak ramai. Dan kedewasaan itu berubah menjadi tingkah laku kekanak-kanakan ketika apa yang kita lakukan terasa bodoh, tidak berguna, menyebalkan layaknya anak kecil. Tapi sedikit orang yang merasa dirinya kekanak-kanakan pada saat ia melakukan tindakannya. Sampai suatu saat ia menyadari mengapa tingkah lakunya pantas dibilang 'bocah'.

Bagaimana bila membuktikan kedewasaan dengan meninjau kasus milik anggota dewan yang menutupi pelat merah dengan warna hitam? Apakah tindakan tersebut bisa dibilang 'cukup dewasa'? Apakah kita, sebagai rakyat yang memilih mereka menjadi wakil kita ternyata tidak cukup dewasa Bagaimana dengan seseorang yang lebih memilih menangis sendirian daripada mengungkapkannya sendiri? Apakah ia cukup dewasa karena membiarkan masalahnya dipegang sendiri, atau ternyata ia sangat kekanak-kanakan karena ia memilih menangis bombay seperti anak kecil?
Yap, inilah mengapa sudut pandang dan kedewasaan kita juga perlu dipertanyakan.

Hidup masa ini, ternyata menuntut banyak orang untuk menjadi pribadi yang benar-benar matang. Beberapa orang berusaha mendongkrak kedewasaannya habis-habisan. Berusaha tampil layaknya mahluk metropolitan, menjadi pribadi yang tidak peduli akan satu sama lain karena merasa urusannya jauh lebih berat daripada milik orang lain, menjadi orang yang kelihatan tegar dimanamana, dan berusaha membuat orang berkata, 'wah kamu sudah cukup dewasa, ternyata.' Apakah menjadikan diri kita dewasa sebelum waktunya, merupakan pilihan yang tepat?

Kedewasaan .. Sesuatu yang kadang perlu kita pertanyakan, pertama bagi diri sendiri, lalu mulai menimbang-nimbang milik orang lain