Sabtu, 27 Juli 2013

ESP.

I'm already Senior High School now!! Geez not really sure that one day I'll wear those sinlui's uniform.. But right now yes I AM!

Cukup inggrisan. Keluar di tengah Suroboyo aja ngomong keminggris, miris sekali.
Dan jikalau daku sudah SMA, itu pertanda.. SATU SEKOLAH LAGI! Cihuy cihuy! *lari keliling sinlui* jatuh guling guling*

No story of LOS, belom keluar foto dari sie dokumentasi :'( Nanti kalau udah berhasil minta pasti nulis tentang memorable days.

Yup. 19th of July is the first day I met him after 5 months. Ngga biasanya ga ketemuan sampe 5 bulan, salahkan ujian! Salahkan ujian! *bakar buku UN*

Have you ever think that one day you'll fcking fall for someone then can't be moved? (Walhamdulilah grammar ga ada yang bener)
Masih dengan orang yang sama, udah dari jaman 2011 ditulis dengan kisah-kisah-ga-jelas-juntrungnya. Yaa walaupun di selingan taun-taun itu meleset juga ke mulut para lelaki..

Then I realize those are the stupidest things I ever made. Just like:

Senin, 24 Juni 2013

Yours, tasted moccha.

Those coffee and times can't heal my wounds. Tanganku terus bergetar tiap memegang benda-benda itu. Entah yang hanya beberapa gram, atau yang ratusan pound. Aku curiga, jangan jangan aku mengidap epilepsi (eh, apa itu? Parkinson? Yah itu dia.) Atau ini hanya sisa-sisa kopi tadi pagi.

Sometimes I do believe that those cups of coffee really heal my wounds. Honestly, hanya ada satu luka yang tertinggal. Tapi emosi itu berubah menjadi puluhan rasa lain yang menggerogoti kepercayaanku terhadap keajaiban.

Menangkap beberapa momen di hadapanku. Aku bukan fotografer andal. Kamera HP 3.2 MP itu saja selalu membuatku bergetar.. objek di depan mataku, mata lensaku, dan kini bayang bayangmu di balik secangkir kopi dingin itu.

Dingin. Sebongkah ice cube mulai melumer di dalam mulutku. Kembali tertawa-tawa mendengarkan bunyi 'kress,' entah untuk kali ke berapa. Tempat favourite yang mungkin tak ada yg mengerti. They called this an old place, i called it's a amazing place. Cahaya temaram di balik lukisan nenek tua, entah apa yang ada di balik keranjangnya.

Kakak muda yang ada di balik counter itu sudah hafal dengan menu pesananku. Vanilla Milkshake, dengan bongkahan es yang masih tersisa. Sambil mengecap moccha frapuchino pesanannya, aku menggumam lembut. Rasa pahit khas moccha yang perlahan lahan menenangkan jiwa.

"Seleramu," kataku pelan. Ia hanya tertawa, kemudian mencoba milkshake milikku. Sebongkah es dimasukkan ke bibirnya, dihisap perlahan, lalu tertawa kencang. Untung kafe itu cukup bising, takkan ada yang mendengar tawa horrornya, -kata adikku sih begitu.-

Aku melongo. Mendadak ia kembali tertawa, kemudian mendekati wajahku. Entah tersisa berapa inchi saja, antara hidungku dan hidungnya. "Mau mencoba sesuatu yang baru?" Bibir manisnya mendekatiku. Sisa moccha itu masih saja menggangguku, aneh ketika mengecup bibir seseorang yang rasanya seperti kopi. Refleks, mendadak aku membalasnya seperti ingin melumat habis aroma kafein yang tertinggal di sudut bibirnya.

Dingin. Dan aku baru sadar, es batu itu masih tertinggal di dalam mulutnya.

"How it feels?" Tanyanya. Bodoh, tentu saja ini dingin. Tapi aku lebih memilih untuk tersenyum, dan kembali bersembunyi dalam peluknya.

Dan kenangan-kenangan manis akan kopi yang tertinggal di balik bibir seseorang akan menjadi lebih menyakitkan lagi, karena kau tahu bibir yang sama takkan lagi menyentuh bibirmu dengan rasa moccha. Hanya gelas hitam pekat itu yang akan menempel, ditemani milkshake dengan bongkahan es yang membuatmu tertawa .. entahlah. Kau ingin tertawa atas kebodohanmu melewatkannya, atau menangis karena waktu telah berputar.. Itu pilihanmu.

Kamis, 13 Juni 2013

Smartfren Andromax- U review: 4 of 5

Holla kawans! Ini posting pertama via HP pertamaku .. yepyep i used the andromax u for reviewing itself, hihi

Bakal jadi posting yang kilat karena aku nggak seberapa betah ngetik pake touchscreen, karena lama lama jari bakal jadi kapal, tapi layar touchscreen dari smartphone android dengan OS 4.1 alias jellybean ini cukup responsible kok. Dia gapunya tombol yang 'mecetat' keluar kecuali tombol power dan volume.

1. Kamera
Dibekali kamera belakang 8MP yang bisa autofokus cukup elegan juga kalo dipadu-padankan dengan harga jualnya, tapi nggak tahu kenapa kamera depannya yang ditulisi 2MP beda sama kamera depan Androtab milik smartfren juga, padahal tulisannya sama-sama 2MP. Kamera depan di Andromax-U jauh lebih gelap .. ngga enak buat foto gitu lah. Kecuali ada di tempat yang cukup cajaya, mugnkin sedikit nulungi.
Flashnya silaumen!!

2. Responsibilitas
Cukup bagus, mungkin gara-gara jempolku yabg gede jadi gaenak buat nulis, kalau dibuat landscape enak juga jok, ada pinyin keyboard juga, jadi aku bisa nulis mandarin sesuka hati muahaha >:)

3. Lemot gak?
Nggak sih, soalnya udah dilengkapi prosesor 1.2 GHz ya g notabene cepet, but this phone usually had it own time i call 'restart' yup, dia sering restart sendiri. Apa mugkin karena memorynya abis (memory yg buat jalanin app gitu.. ) 

Kalo buat download cuma bisa pasrah sama smartfren sih, mebtok-mentok juga 3.5G tok .. nggak sampe REV-B yang 14MB++ itu T^T

Oh iya, HP ini sudah ber OS jellybean loh, jadi gausah khawatir, kita masih anak gauull~~

4. Bodinya gimana nih?
Mulus bahenol seksi lah pokoknya. Yup, tapi terlalu beresiko kalo di biarin 'telanjang' karena casing belakangnya dari doff, kalo kena kuku beret dah ..

Layarnya mulus dan udah dipasangin anti gores dari pabriknya, di bagian atas HP ini ada dua lubang, yaitu lubang input charger dan output 3.5 audio jack. Sedangkan di bawah ada lubang mic dan gantungan handphone yg pake kaya benang itu..

Di sisi kiri (kirinya kalo pas make HP) cuma ada tombol volume, dan di sisi satunya ada tombol power.

Oh iya, Baterainya li-ion 1800 mAh, lumayan awet kalo ngga dipake apa-apa internetnya :D

Kelebihannya:
1. Bisa untuk tethering hotspot up to 5 users
2. Harga 1,6 dapet HP yang pantes dihargai 3++

Kekurangannya:
1. Suka nge restart sendiri
2. Auto sync ga jalan (aku gatau caranya)
3. Kamera depannya kalo low light susah.

Oke gitu aja sih .. Nanti kalo ada yg mau aku tambahin lagi pasti aku tulis ;)

Minggu, 02 Juni 2013

Terlambat


Kesempurnaan dalam hidup kita tinggal sedikit lagi. Kini kita hanya perlu menanti pergesaran-pergeseran kecil tersebut. Detik yang mengejar menit, menit yang mengejar jam, dan jam yang berusaha menangkap hari. Kau bangun seperti harimu masih panjang, kau tersenyum layaknya pegawai yang diberi bonus besar, dan makan seperti kakek-kakek pengguna kartu kredit yang diberi potongan harga sesuai umur. Kau bahkan belum memahami betapa waktu yang kita miliki hanya tinggal beberapa saat lagi.

Terpisahkan jarak bukan keinginan utamaku. Mereka bilang, apalah artinya jarak bila saling mencintai. Kan sudah dekat di hati, walaupun jauh di mata. Bodoh, siapa gerangan yang tak ingin berada di sisi orang yang mereka cintai? Mereka bilang, cinta bisa mengalahkan jarak. Lantas, kebenaran-kebenaran lain? Bagaimana? Dibiarkan begitu saja?

Pagi-pagi sekali, kau melemparkan senyum khasmu ke arah sang surya. Aku berada tepat di bawahnya. Dan seorang gadis manis tepat berada di sisiku. Kepada siapakah engkau sesungguhnya menyunggikan setengah lingkaran yang benar-benar manis itu? Kepada rintik-rintik hujan yang turun seiring dengan kabar buruk dari para pendamping bertopi tentara itu kah? Atau kepada mentari yang berusaha keras tetap bersinar agar awan-awan hitam itu berpindah sementara? Atau kepada dia yang tengah sibuk tertawa ria menatap benda bertombol itu?

Atau atas imajinasi semata ... engkau tersenyum kepadaku?

Segala kenyamanan yang telah kau berikan padaku kadang membuatku merasa segalanya tidak tepat pada letaknya. Ada yang salah. Aku menatapmu. Lama, sangat lama. Tidak berusaha membuatmu melihatku, hanya ingin memaknaimu saja. Tetap, yang bisa aku lihat hanya sepatu coklat dan jaket hitam serta kepalamu yang bersembunyi di bawah sinar siang itu. Tiba-tiba engkau menoleh, sepertinya mencari sesuatu. Dan mendadak kita saling bertatapan.

Matanya indah.

Mendadak ia tertawa terbahak-bahak. Aku terkejut. Giginya tersusun rapi, bibirnya merah merona, lesung pipinya tersungging terus menerus, bahkan tertawa sekeras itu pun nafasnya belum habis juga.
"Kau yang mencariku?" tanyanya begitu saja.
"Atas dasar apa kau berpikiran seperti itu, hah? Dasar, terlalu percaya dirimu itu memang belum hilang, yah," jawabku terburu-buru.
"Hei, sekian bulan berada di sebelahmu, masih lupa kalau instingku terlalu mudah untuk merasuki jiwamu. Memang pantas dipanggil nenek kok," jawabnya sinis.

Yah, bagaimana juga, ia adalah salah satu dari sekian ribu manusia di dunia yang memiliki insting luar biasa kuat. Diam-diam ia mengerti aku memiliki masalah hanya setelah sepersekian detik melihat wajahku. Ia mengerti kalau senyum yang aku tunjukkan padanya hanya sebagai topeng semata, masih karena sisa-sisa tangisan hari kemarinnya.

"Terserah kamu. Aku tidak berusaha mencarimu, kok" jawabku tak kalah sinis. Ia tersenyum, lantas mendongak ke atas, menatap unggas bersayap lebar yang terbang seenaknya, dari ujung tiang ke tiang lainnya. Bercuit-cuit seakan menyindir perseteruan antara aku, calon nenek-nenek yang pikun sebelum umurnya, dan dia, yang sok tahu melebihi segalanya.

Kau berjalan menjauh.
Dan kini, insting yang terlalu kuat itu berpindah menuju pikiranku. Sepertinya engkau akan pergi, jauh. Jauh sekali.

Ombak bergulung perlahan, menyambangi jari-jari yang bertanding melawan desiran air yang seakan mengajak para pemiliknya untuk terus maju, berjalan menyusuri ombak-ombak tiada tandingannya itu. Nyaris 40 tahun dikenal sebagai destinasi wisata internasional, yang pasti karena keindahan cakrawala saat mentari menutup harinya. Sebuah sore yang sempurna. Beberapa kawan berlari-lari mengejar kawanan yang mencolek-colek pipinya dengan butiran coklat yang menemani air asin itu, sisanya memilih duduk santai, bercakap-cakap dengan mereka yang memamerkan kemolekan tubuhnya, mereka yang mencari kemegahan sinar matahari, walau kendala bahasa masih menjadi raja.

Tiba-tiba sesosok bayangan menutupi panas matahari yang membakar tubuh. Engkau hadir, namun tidak dengan senyum khasmu. Engkau malah menggeser-geser pasir agar menutupi kakiku. Engkau tertawa. Engkau mengulangi hal yang sama berkali-kali, sampai akhirnya aku berlari mengejarmu. Konyol, sepertinya kita sedang berusaha untuk casting film India, berlari-lari mengejar satu sama lain, lalu berhenti, lalu tertawa terbahak-bahak. Diulang berkali-kali, sampai akhirnya lelah untuk terus tertawa.

"Angkatlah kakimu ketika berlari. Masa', kaki hanya untuk jalan saja?" katamu menyindir. Ah, lagi-lagi hobinya nyinyirin orang keluar.
"Aku berlari, hanya lokasinya saja yang salah. Masa aku harus berlari, lalu kakiku terpendam pasir lagi? Enakan juga untuk jalan," balasku. Dan percakapan-percakapan ala peserta lomba debat itu mengalir begitu saja. Sesekali engkau tertawa, lantas berteriak-teriak, lalu tertawa yang kencang. Lalu dengan berapi-api bercerita ini itu, mulai dari letak krayon 48 jenis warna yang ditukar-tukar oleh adikmu, sampai ibumu yang mulai menggoda-godamu dengan ratusan pertanyaan mengenai gadis pujaanmu.

Aku terkesiap. Gadis pujaanmu bukan orang yang asing di sekolah kami. Murid kelas sebelah yang luar biasa aktif, nyaris semua jenis organisasi di sekolah ia ikuti. Bendahara OSIS. Ketua tim modeling. Tim utama basket, futsal, sekaligus voli. Anggota redaksi majalah sekolah. Anggota segala macam organisasi yang berhubungan dengan musik. Dan masih banyak yang lain. Tak heran, ketika akhirnya engkau mendapatkan hatinya, kedudukan melukis sebagai hobi utamamu digusur oleh melihat indah wajahnya. Sepanjang waktu. Mulai dari masuk sekolah, istirahat, hingga pulang sekolah. Kau buatkan folder khusus di komputermu, yang pastinya berisi foto-fotonya, lagu-lagu favoritnya, surat-surat cinta yang tak pernah dijamah oleh matanya, dan kisah-kisahmu bersamanya.

Dan suatu hari, engkau, teman sebangku yang hanya berada di sisiku seminggu sekali, mendadak terdiam. Tak seramai dulu. Tiba-tiba ribuan kosa kata mengenai kisah lamamu engkau gelontarkan begitu saja. Betapa engkau kecewa kalau akhirnya akan seperti ini.
"Ibunya melarang kami bersama. Ia masih berada dalam tahap perkembangan yang luar biasa, dan kalau di ilmu komputer, aku adalah sebuah aplikasi dengan banyak bug yang harus segera di fix, dan kalau perlu ia harus segera mencari newest version dari aku. Kami berbeda keyakinan.." Kau menarik nafas sejenak, lantas melanjutkan lagi sumpah serapah itu. "Hei kamu! Tuhan hanya satu kan? Mengapa alasan Tuhan harus maju duluan?!" Kau berteriak, kencang sekali. Lalu menangis.
Baru kali ini aku melihat ia menangis.

Dan kini, atas nama penasaran, mau tidak mau, hati, mulut, dan otak terpaksa di sinkronisasikan bersama, demi mengucapkan pertanyaan-pertanyaan irasional, yang bahkan dengan mudah akan ditebak begitu saja oleh instingnya sebagai pertanyaan seorang gadis kepada pangeran impiannya.
"Kau.."
"Apa?"
"Masih mencintai ia yang dulu kau puja-puja sebagai gadis paling sempurna dalam hatimu?"
Kau terdiam. Kadang kamu mendongak, kadang kamu menunduk. Sesekali kamu menoleh ke arah mentari yang sedang rapat dengan para awan di angkasa, bertanya kapan rembulan datang.
"Tidak lagi. Tapi kalau ditanya mengenai rasa yang tertinggal, ah.. Banyaklah perasaan yang masih terperangkap dalam namanya. Tiap malam masih ku bertanya, atas dasar apakah Tuhan memisahkan yang pernah dipertemukanNya. Dan kini aku telah menemukan jawabannya," jawabmu gembira. Jantungku berpacu dengan waktu. Jangan, jangan katakan kalau kau telah memiliki newest version dari gadismu itu. Tapi, sekali lagi, perasaan ingin-tahu itu selalu muncul begitu saja tanpa pernah diperintah.

"Malaikatku dulu sudah ditarik Tuhan karena ia tak bisa menjagaku sepenuh waktu. Ia terlalu sibuk memikirkan dirinya. Kini, Ia mengirimiku yang lain. Yang jauh lebih sempurna. Dan mungkin sebentar lagi ia akan menjadi milikku, selamanya." Kamu tersenyum lebar, menoleh kepadaku, tertawa kecil-kecil. Ternyata giginya dikawat.

"Kau akan merestui hubungan kali ini, kan?"
Kalau tadi benda segenggaman tanganku berpacu melawan jarum yang berdentang memutar itu, kini ia berhenti mensuplai darah ke otak. Dunia berputar begitu saja. Kadang berputar ke kiri, lalu balik arah ke kanan. Lalu naik ke atas, dan tiba-tiba dihempaskan ke bawah.

"Pasti. Bahagiakanlah dirimu, kawan," jawabku. Kamu pergi begitu saja.

Senja nyaris menutup hari, entah ia yang terlalu cepat mengunjungi hari ini, atau ia memang sudah lelah. Semburat jingga menyusup ke balik awan di angkasa, sembari mengucapkan sampai jumpa atas kenangan hari ini. Kawan lama berlari menghampiriku, memeluk tubuhku, mengerti aku cukup lelah atas keadaan ini. Ia memelukku sepanjang jalan, dan segala tindakannya mengingatkanku akan dirimu. Kamu pernah memanjakan gadis itu makanan, dan kini kawan lama ini juga melakukan hal yang sama. Hanya hal kecil, namun maknanya meresap.

Dan pikiran mulai beradu argumen dengan hati. Bertanya apakah bisa kami, kawan lamaku dengan diriku bisa kembali seperti dahulu, karena terlalu banyak hal yang pernah kami lakukan, dan kami saling merindu. Jawabannya hanyalah anggukan kepala.
Kami pun tertidur dalam pelukan satu sama lain, walaupun dalam hati menangis, bertanya kemana dirimu kini.



Dua tahun. Dua puluh empat bulan. Tujuh ratus tiga puluh hari. Tatapan matamu tak pernah berubah, hanya kadang bersikap lebih ramah padaku, tapi mendadak dingin. Tapi malam itu, engkau memintaku datang ke rumahmu.
"Menjamu engkau sebagai tamu, sekali waktu engkau harus mencoba masakan ibuku. Terlalu lezat untuk dilewatkan," katamu.

6.30 sore, jalanan memang mulai ramai. Terompet-terompet dengan suara khas bersahutan, bersiap menyambut tahun baru. Ibumu menghidangkan banyak makanan. Mulai dari makanan daerah sampai makanan ujung bumi. Sekitar 12 orang duduk melingkar di meja super-besar ini, tertawa antar satu sama lain. Ia memiliki 3 saudara. Bersama ayah dan ibunya, total 6 orang. Ada kakek-nenek dari orang tuanya, serta seorang wanita muda di sebelahnya. Mungkin inilah gadis yang ia puja itu. Cerita tolol yang diceritakan oleh orang tolol kepada gadis tolol yang mencintainya.

Piring-piring kotor itu kini dirapikan oleh gadis ekor kuda yang tadi duduk di sisinya. Mungkin mereka nyaris menikah. Atau sebentar lagi bertunangan. Yang jelas, gadis itu memang calon menantu yang diidam-idamkan semua ibu dan bapak.

Ia mengajakku keluar. Memandangi hamparan langit malam di puncak gedung sebuah hotel. Ia mulai bercerita, dua tahun terakhir ia meminta maaf tak pernah bisa bersenda gurau bersamaku, ia tengah melanjutkan studi di luar negeri. Menjadi seorang ahli bahasa, mempelajari ratusan manuskrip sastra kuno, menerjemahkan beberapa novel, sekaligus menjadi public speaker. Engkau bercerita mengenai ribuan anak muda yang dengan senang hati hampir setiap hari menjamah buku-buku di perpustakaan, bukan seperti tanah pertiwi, yang mana malah diperbudak oleh ponsel jutaan itu. Engkau terus bercerita layaknya tak ada hari esok.

Namun tiba-tiba engkau terdiam, berhenti sejenak sambil mengambil nafas, panjang sekali. Aku merinding, tak seperti biasanya engkau begini. Penuh perasaan, namun di sisi lain malah terlihat ketakutan. Tepat 135 detik engkau berdiam diri begitu saja.

"Bagaimana kabarmu selama ini?" tanyanya.

"Baik-baik saja," jawabku singkat. Ia hanya berdehem pendek, lalu berjalan lagi. Kembali bercerita mengenai ratusan karya sastra yang ternyata perlahan membuatmu gila, karena hanya demi menceritakan seorang gadis cantik pujaannya, seorang sastrawan membuat puluhan jilid buku, dan engkau, mau tidak mau, harus membaca dan memaknainya satu persatu.

"Lalu aku sadar. Kadang cinta memang tak bisa semudah mematahkan jarak begitu saja. Ada yang harus diperjuangkan, lebih dari sekedar berlari-lari. Apalagi kalau pintunya sudah ditutup. Wah, terlambat," katamu sok puitis.

"Kau tahu alasan mengapa aku sampai pergi kemana mana, kan?" aku mengangguk. Mencari pelampiasan. Cintamu tidak sampai ke tangan orang lain. Apalagi hatinya.
"Suatu malam aku tersadar, wanita yang selama ini aku butuhkan bukan orang yang ada di negara orang. Dia sudah ada selama ini di sisiku, tertawa-tawa bersamaku, menangis bersamaku, yang pasti.. ia selalu ada di sampingku."

Engkau menengadah, menatap langit. Membiarkan air mata itu mengalir perlahan.
Ini kali kedua aku melihat wajahmu bersimbah bulir-bulir air mata.
Lalu engkau mengusapnya begitu saja. Dan tertawa. Terbahak-bahak pula.

"Bagaimana lelaki idamanmu itu? Masih sama seperti dahulu?" tanyamu. Aku menggeleng.
Lelaki itu adalah kamu. Dan sampai detik inipun, engkau tidak menyadarinya.

"Akan kuceritakan setelah engkau selesai bercerita mengenai pujaan hatimu yang terbaru."

Mendengar kisahmu, gadis itu memang sempurna. Dan kemungkinan besar, gadis itu adalah dia yang duduk di sampingmu tadi.
Bagus!
Hari ini kita akan merayakan pedihnya hati, yang sudah digores-gores, lalu ditaburi garam.

"Baiklah, kini giliranmu. Ceritakan padaku."

"Aku tidak ingin muluk-muluk. Semua bahkan sudah selesai sebelum dimulai. Cinta yang belum sempat dijamah itu kini berlari lebih cepat, mungkin karena ia sudah pergi entah kemana saja. Lagipula kemungkinan besar ia telah memiliki tambatan hati. Jadi, ya sudah. Aku akan menyusul kepergiannya dengan kepergianku."

Kamu terdiam. Kurasakan desiran angin malam makin menerpa diri. Aku tidak betah berada di atas sini.
Tapi kau malah menahan tanganku.
Lalu mengecupku, perlahan.
dan tak berkesudahan.

"Aku berharap aku belum terlambat untuk mengejarnya kembali..." katamu. Belum terlambat.
Cukup lama kita berada di sana. Aku bertahan melawan angin, dan engkau menggenggam tanganku erat.
Sampai akhirnya engkau menyadari sebuah cincin bertengger di jari manisku. Engkau tersenyum, namun seperti yang sudah kukatakan tadi, kekuatan instingmu berpindah pada jiwaku. Engkau hanya berpura-pura.

"Sepertinya, kali ini aku terlambat lagi."
Engkau tertawa-tawa keras sekali, amat sangat lebar, sampai akhirnya engkau meninggalkanku begitu saja.

Warna kawat giginya biru muda.


----------

Ngiahahaha draft dari tahun ke-sekian yang baru sempet di post. Terimakasih sudah membaca! :)

Kamis, 23 Mei 2013

die vergangenheit ..


Oh gosh -_____- Liburan ini benar-benar sukses membuat berat badan tetap, tapi bentuk badan mekar kesana kemari seperti kambing liar.
Dan ini baru berjalan beberapa minggu, entah apa jadinya nanti waktu masuk SMA. Iri banget sama mereka yang bisa makan banyak tapi nggak gendut-gendut, sedangkan aku makan banyak dan langsung gendut #pastilah

Apesnya lagi, aku suka ngga sadar kalau sudah layak dan sepantasnya beli seragam buat SMA dengan ukuran 2x lebih BESAR dari ukuran semula. Dan yang terjadi hanya beli baju yang pas dipake di badan. SMP dulu orang tua bisa ikutan bantuin anaknya pilih seragam. Lah SMA kok disuruh masuk sendiri, disuruh  ngukur tanpa orang tua. Oh hell :'

Nggak bisa nggak bisa nggak bisaa!! #kaplokin
Errr hahaha hahaha kenapa jadi tiba-tiba bahas SMA yah -_-

Minggu, 19 Mei 2013

untitled.


Lelaki itu berjalan perlahan. Langkahnya gontai. Kadang kaki kanan yang ia seret, kadang berganti ke pasangannya. Matanya sayu, entah karena menangis, entah karena arak di kedua tangannya.

Ia meneguk arak-arak itu, lagi. Entah sudah ke berapa kalinya. Dan ia kembali ke ujung bar ini, berteriak-teriak meminta puluhan jenis arak yang sama.

Lalu ia meneguknya cepat-cepat, seperti seseorang yang mengalami dehidrasi. Lalu ia tertawa. Kemudian meletakkan botol arak yang ke.. entahlah, mungkin yang ke 26 tersebut dengan keras.

Kepalanya didongakkan ke atas. Kemudian tertawa. Lalu menunduk, dan tertawa lebih keras lagi.

Sayangnya tak ada yang perduli.

Puluhan botol arak itu kini berbaris di hadapan lelaki kekar itu. Sudah tak ada setetes pun yang tersisa di dasar. Kalaupun ada, ia pasti berteriak: "Keluar kamu, dasar pelacur!" lalu meneguknya dengan rakus, seperti tak ingin meninggalkan arak barang setetes pun.

Matanya menyapu ruangan gelap ini. Sudah bisa dipastikan, arak-arak itu sukses menghancurkan penglihatannya. Koordinasi otak takkan pernah berjalan lancar bila alkohol-alkohol yang mengalir ke darah itu ikut berselancar menuju otak. Tebaklah. Ia terjatuh. Lalu tertawa.

Katakan saja ia gila, atau kelainan mental. Maka ia akan tertawa (lagi) dan membanting satu botol arak. Dan bisa dipastikan, ia akan tertawa. Tertawa keras sekali, seperti mendapat lotre satu juta euro, kemudian tidur bersama gadis-gadis pelacur itu.

Tepat pada botol arak ke 30, ia terdiam. Menyodorkan setumpuk uang pada bartender, lalu menyeret kaki-kakinya. Badannya gemetar. Yah, ia .. mabuk. Sepanjang jalan ia meracau. Tertawa haha-hihi lalu berputar-putar seperti balerina. Kabar baiknya, waktu itu sudah pukul 3 pagi. Waktu dimana kota dipastikan 90% sepi-pi-pi.

Mendadak ia tertawa. Tangannya diangkat tinggi-tinggi ke atas, lalu menari-nari. Melompat kesana kemari, menjerit-jerit penuh tenaga.

Sebuah nama meluncur dengan cepat dari bibirnya. Dan terjadi terus menerus. Katakan, ia gila. Lalu ia akan menyebut nama wanita itu, untukmu, 10 kali lebih cepat, sampai semua liurnya berhamburan kemana-mana. Sediakan payung untukmu sendiri.

Sampai pada detik ia lelah. Terjatuh, berguling-guling. Seperti meminta pelukan kepada jalanan malam. Dingin. Takkan ada yang memeluknya selain aspal-aspal itu.

Entah untuk kali ke berapa, ia tertawa lagi. Setiap kali ia berhenti tertawa, tawa selanjutnya lebih keras.
Tidakkah kau lihat .. air matanya mengalir?

Katakan padaku, apakah semua orang yang tertawa adalah orang yang bahagia?

sby, 15/05/13

Senin, 06 Mei 2013

Unforgettable Bali!


Tanggal 1-4 Mei barusan, kami murid kelas 9 SMPK Stella Maris mengadakan tour menuju pulau Dewata alias Bali. What a wonderful moment! Sebelumnya, sekitar tanggal 25  April kami diberi list tempat tujuan dan aturan-aturan serta kelompok selama di Bali. Setelah itu, kami mendapatkan jatah liburan UN, lumayan buat istirahat.. Kemudian tanggal 29 April kami berkumpul di sekolah untuk diberi penjelasan mengenai list yang sudah diberikan sebelumnya.
Dan tibalah saat yang dinanti-nantikan, yup it’s time to go! Pagi-pagi sekali, sekitar pukul 05.30 (buat aku itu sudah cukup pagi T.T) kami disuruh kumpul di sekolah. Katanya, kami berangkat jam 6 pagi. Nyatanya, kami baru berangkat pukul 06.45. Waktunya terbuang percuma-_-
Sepanjang perjalanan, kami juga sambil wisata kuliner lho. Paginya, kami diberi makan nasi udang kotak Bu Rudy. Tapi, karena punyaku dengan punya beberapa teman sempat aku taruh di atas bis ( bukan di atapnya -_-) jadilah nasi itu ... membeku. Hiks <// 3 #plak
Siangnya, kami berhenti di SPBU daerah Paiton untuk makan. Iya, makan bensin gitu ceritanya *eh. Nggak kok, kami makan di restoran Utama Raya yang kebetulan berada di sebelah SPBU itu. Makanannya lumayan, ada ayam goreng, udang bumbu pedas manis, kemudian ada sop juga, dsb. Setelah kurang lebih 1 jam kami berhenti, akhirnya kami melanjutkan perjalanan.
Sekamir pukul 4 siang kami sudah sampai di Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi. Diatas kapal ferry, kami membunuh waktu dengan cara foto-foto. Yah, walaupun penumpangnya bukan cuma dari SMPK Stella Maris, tapi namanya juga 9E .. Ga bakal bisa diem kalo gak narsis *dilempar buku matematika*
Jam 6 WITA menyambut kami ketika menginjak pulau dewata ini. Kami pun berhenti untuk santap malam (lebih pas disebut makan sore kalo ini—‘) di daerah Negara, Gilimanuk. Antrean cukup panjang, sampai-sampai malas antri disini nih. Makanan yang disediakan kurang lebih sama dengan sebelumnya. Ala prasmanan tapi yang ngambilin pegawai restoran.
Setelah makan, kami melanjutkan perjalanan menuju Denpasar. Perjalanan sudah cukup melelahkan, badan rontok semua, bawaannya pingin pijit. Tapi apa daya, siapa yang mau mijitin? :b
Sekitar pukul 10.00 malam WITA kami sudah tiba di depan Hotel Inna Denpasar. Hotel ini merupakan hotel yang tertua di Bali. Setelah tiba di sana, para ketua kelompok dibagikan kunci kamar hotel, dan bersama kelompoknya masuk ke kamar masing-masing. Hotel ini terbagi menjadi dua bagian, sebagian dapat sebelah kiri jalan, sebagian dapat seberangnya. Nah, ternyata yang sebelah kiri ini jauh lebih kecil, jadilah kamarnya ngepress TT. Sedangkan beberapa teman dapat yang sisi seberangnya, yang 2 kali lebih besar._. Ternyata, walaupun di kertasnya diatur agar kita masuk kamar jam 10 WITA, kami malah keliaran cari makanan. Sate yang nangkring di depan hotel pun jadi korban perut kami..

DAY 1
Hari pertama, kami sarapan di hotel, kemudian dilanjutkan perjalanan menuju pusat oleh-oleh Hawaii. Kami dipandu oleh seorang Tour Guide, namanya I Wayan Sukarsa (baca: Sukarse) atau yang kami panggil Bli Wayan. Orangnya ramah, penjelasannya tentang Bali cukup jelas. Di Hawaii, aku beli 3 kotak kacang Rahayu karena godaan Patrick dan Hadi. Katanya sih, kacang ini cukup terkenal di Bali. Kenapa ga beli kacang Dua Kelinci yang  jadi official kacangnya Madrid ato apa itu? Hehe J Aku juga beli sekotak Pie Susu favorit keluarga dengan harga yang cukup bombastis, 22.500/9 biji, yang berarti harga per biji adalah 2500. What a .. -___-
Perjalanan dilanjutkan menuju Tanjung Benoa untuk watersport. Aku dan sebagian besar teman-teman pergi menuju Pulau Penyu. Harga yang diberikan cukup masuk akal kalau yang naik 10 orang, karena sekali sewa perahu harganya Rp 500.000. Sedangkan untuk masuk ke tempatnya, kami membayar 5.000, katanya untuk melindungi serta merawat penyu-penyu itu. Di sana, kami bisa berfoto ria bersama penyu-penyu yang ada. Selain itu, bisa juga berfoto dengan ular, burung-burung, dan iguana. Kurang lebih setelah satu jam berada di Pulau Penyu, kami pun kembali. Beberapa teman mencoba permainan air, seperti Banana Boat, Jet Ski, dll. Tak berapa lama kami pun beranjak pergi dari Tanjung Benoa menuju Pantai Kuta untuk menikmati sunset.
Di Kuta, banyak teman-teman yang bermain air bersama. Andy, Nancy, Jeannette, Sienny, semuanya milih berbasah-basah ria. Ada juga beberapa yang memberanikan diri berbincang-bincang dengan para Bule. Malah, katanya ada yang bilang kalau salah seorang guru kami minta nomor telfon seorang Bule, wah ada apa ini... Hehehe Jv. Sunset di Kuta ternyata memang benar-benaf fenomenal, sejauh ini..
Sekitar pukul 6 kami pun meninggalkan Pantai Kuta dan menuju ke Rumah Makan Grafika. Disana kami santap malam ala prasmanan-diambilin kaya biasanya. Dengan perasaan yang super duper random karena habis mengalami best moment #eh :3 Beberapa anak pergi ke “Krisna” untuk membeli beberapa oleh-oleh, karena letaknya persis di dalam Grafika. Selama makan malam, kami dihibur oleh Live Music dari seorang penyanyi yang-ga-tau-namanya.
Setelah itu, kamipun bergegas kembali ke hotel. Karena masih tersisa banyak waktu luang, kamipun saling pergi ke kamar teman-teman. Aku pergi ke hotel seberang, lumayan buat sidak kamar orang, mungkin ada makanan nganggur.. Hehe : )))

DAY 2
Pagi-pagi sekali, kami breakfast di hotel sekitar pukul 7 WITA. Setelah itu, kami juga berfoto ria di halaman tengah hotel bersama kelas masing-masing. Tak lama kemudian kami segera bergegas pergi menuju daerah Batubulan untuk menyaksikan pertunjukan Tari Barong. Ternyata, tempat yang dituju memang dihadiri banyak turis mancanegara. Kami diberikan secarik kertas mengenai sinopsis Tari Barong, karena di dalam tarian tersebut bahasa yang digunakan adalah bahasa bali, yang mana nggak ada yang tau sama sekali gimana cara bicaranya -_-
Setelah itu kami pergi ke Bedugul, tepatnya di Danau Beratan. Objek wisata yang cukup terkenal ini amit-amit dinginnya -_- Aku dan beberapa teman memilih untuk mencoba naik speedboat mengitari Danau Beratan. Selain itu, kami juga berfoto ria disana.
Tak lama di Bedugul, kami segera pergi untuk menuju ke Tanah Lot, lagi-lagi untuk menikmati sunset. Pemandangan luar biasa indah disajikan untuk kami, nggak ada salahnya kalau kalian mencoba untuk melihat sunset di Tanah Lot, nggak kalah sama Kuta, lho :3
Ternyata Tanah Lot merupakan tujuan wisata terakhir kami selama di Bali. Sepulang dari Tanah Lot kami segera menuju ke Pelabuhan Gilimanuk. Kami tiba di Pelabuhan Gilimanuk sekitar pukul 11 malam waktu Bali. Perjalanan ternyata cukup lancar, karena sesuai jadwal yang telah diberikan, kami tiba di Surabaya pukul 5.30. Walaupun hanya 2 hari, tapi semua memberikan kenangan indah.
Thanks Bali!!


Some pics of Bali~ 

at turtle island, bali. 


kuta beach

at beratan lake

hadi- at tanah lot

one more from turtle island. 



this is the biggest o turn in indonesian :D 
our tour guide call it simpang dewaruci, but some people call it simpang siur ( too many turn..)